Studi di Belanda?Tentu saja!(01) : Yuk, mengintip suasana kelas di Belanda!

Ingin melakukan studi lanjut ke B e l a n d a, namun masih asing dengan budaya belajar disana?

Study in Holland? Of Course!

Jangan khawatir! Mungkin kisah tentang pengalaman mengikuti kelas ala Negeri Tulip ini bisa memberi sedikit gambaran tentang suasana kelas di sana, yang ternyata berbeda dengan yang ada di Indonesia.

*     *     *

Menanggapai salah satu postingan di wall Facebook group Utrecht Summer School, akhirnya saya dan Lotte Lintmeijer anggota tim media internal Utrecht Universiteit, sepakat untuk bertemu dan melakukan interview seputar pelaksanaan Summer School 2011. Pertemuan yang dilaksanakan tanggal 09 Agustus 2011 di Janskerkorf dan berlangsung kurang lebih 45 menit ini membuat saya bercerita menganai asal-usul keberadaan saya di Summer School, hingga teknis pelaksanaan kelas yang sudah dilalui. Hasil dari beberapa wawancara yang dilakukan Lotte nantinya akan diseleksi lagi untuk dipilih nara sumber mana yang menjadi artikel utama di bulletin mendatang.

Diantara berbagai hal yang kami perbincangkan, tema perbedaan suasana belajar mengajar antara Belanda dan Indonesia menjadi salah satu topik yang seru untuk didiskusikan. Bagaimana tidak? Walaupun cukup singkat, dalam dua minggu saya sudah bisa merasakan beberapa karakteristik khusus dunia edukasi di Negeri Tulip yang mungkin berbeda dengan di Indonesia, yaitu :

1. Lampu Hijau untuk INTERUPSI

Secara pribadi saya cukup kaget kalau ternyata para murid di kelas sangat diperbolehkan untuk melakukan interupsi kepada dosen yang sedang mengajar. Interupsi berarti pertanyaan maupun sanggahan yang diberikan disaat dosen sedang memberikan materinya. Jadi tidak menunggu ada sesi tanya jawab  di akhir kelas (dan biasanya kita sudah lupa mau bertanya apa), anda diperbolehkan untuk langsung mengangkat tangan dan memberikan tanggapan pada materi yang diberikan. Kebanyakan dari dosen yang mengajar saya di Utecht Summer School tidak memberikan batasan atas interupsi yang dilakukan, semuanya hanya terbatas oleh waktu. Apabila waktu mengajar hampir habis, pengajar akan memotong interupsi yang sedang berlangsung dan menginformasikan kepada kelas atas sisa waktu yang sempit dan harus melanjutkan ke materi berikutnya.

Just ask! its okay.

Welcoming all of your opinion!

Tidak perlu takut untuk terlihat bodoh atau dianggap aneh saat memberikan banyak tanggapan, hal ini sangatlah normal di Belanda. Sebaliknya, tidak jarang pengajaran di kelas menjadi lebih “dalam” sekaligus seru dengan interupsi yang dilakukan oleh sesama murid di kelas. Melekatnya budaya komunikasi yang “direct” alias langsung, Belanda memang tidak bisa basa basi, termasuk di dalam kelas. Jadi apabila ada yang anda ingin tanyakan, atau bahkan mungkin anda ingin berdebat karena tidak setuju dengan yang disampaikan, ada lampu hijau untuk melakukan interupsi.

 

2. Dosen yang CAPABLE & HUMBLE

Beruntung, daftar pengajar yang ada di dalam kelas saya termasuk orang-orang yang telah berpengalaman di bidangnya. Bahkan, kebanyakan dari mereka telah mendapatkan gelar professor, atau telah melanglang buana mendalami ilmunya. Kelas saya sempat diajar langsung oleh penulis dari buku Dutch Culture and Society yang digunakan selama masa Summer School ini. Yang membuat saya kagum dari cara mengajar mereka adalah kerendahan hati sekaligus kejujuran yang ditunjukkan oleh orang-orang hebat tersebut.

Ada kalanya murid murid memberikan sanggahan dan pendapat yang sangat kritis, maupun pertanyaan sulit dan rumit untuk dijelaskan secara gambling. Diperhadapkan dengan kondisi yang seperti itu, mereka tidak lantas ‘mbulet’ dengan pendapat mereka sebagai dosen, sebaliknya, mereka dengan jujur mengatakan ketidaktahuan mereka akan hal tersebut.

Positive atmosphere of NL's Education 🙂

“For now I cannot answer your question, I will give it back to you later after I figured it out. And I will tell you in the next class..”

“I don’t know about the answer, maybe I will search about it as well and I can give it back to you by email..”

I will answer you after class, you can come to me then..”

Tindakan untuk mau mengakui kekurangan mereka sebagai dosen menurut saya adalah salah satu karakter posiif yang patut ditiru oleh pengajar-pengajar di luar sana. Kejujuran dosen yang saya lihat dan alami di Belanda layak diacungi jempol!

 

3. Belajar Menjadi Pelajar yang INDEPENDENT

Menjadi siswa yang mandiri untuk menggali informasi dan membaca buku teks sebelum kelas resmi dimulai memang tidak mudah, namun penting untuk dilakukan. Jangan harap anda bisa mengikuti kelas dengan baik tanpa mengetahui secuplik materi yang akan diajarkan. Bisa tersesat di tengah jalan atau malah tidak mengerti sama sekali, apalagi kalau topiknya itu sama sekali asing bagi anda. Pengetahuan awal melalui belajar singkat sebelum mengikuti kelas tidak hanya membantu anda mengerti materi yang akan disampaikan, lebih jauh, anda bisa terlibat aktif dalam diskusi kelas. Beberapa hal yang disarankan untuk memperkaya informasi pra kelas :

a. Sediakan waktu untuk membaca dengan konsentrasi penuh. Walaupun hanya 30-60 menit, itu akan sangat berguna apabila dimanfaatkan dengan efektif. Catat istilah sulit atau ungkapan asing untuk dicari artinya nanti.

b. Saat anda membaca materi mendatang di buku teks yang tersedia, tidak ada salahnya memperkaya informasi dengan update informasi terkini seputar topik terkait baik melalui buku lain di perpustakaan atau internet.

c. Bertukar pikiran atau diskusi ringan mengenai topik mendatang dengan siswa yang lain. Hal ini bisa membuka pikiran anda akan hal-hal baru yang mungkin akan anda temukan melalui pendapat mereka. Contohnya : Saya yang terkaget-kaget saat berdiskusi tentang politik bersama Federica Gabrieli, salah satu teman dekat asal Italia. Pengetahuannya yang luas dan kebaikannya untuk berbagi ilmu tentang : perubahan iklim politik di Belanda-Eropa, orang-orang penting di dalamnya, dan sistem pemerintahan ideal yang ada sekarang, semuanya itu membuat saya termotivasi untuk belajar lebih banyak (dan lebih cepat menyadari betapa saya tidak tahu apa-apa tentang Eropa selain keju, pasta, kincir angin, tulip dan cokelat!!!)

Being independent is a must 🙂

Library is the new Cafe

"Ritual" saya tidak sempurna. Makanya, anda harus lebih baik dari pada saya 🙂

 

Kelihatannya tidak mudah, namun apa salahnya dicoba. Dijamin, kalau hal ini dilakukan secara rutin dan teratur, anda tidak akan kewalahan saat kelas maupun final tes nanti.

 

4. Datanglah BEFORE TIME

Budaya ‘molor’ atau terlambat tidak eksis di Belanda. Kelas akan diadakan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan sebelumnya. Jadi, sangat disarankan untuk menghadiri kelas sebelum waktu yang disepakati supaya bisa dengan tenang mengikuti kelas yang on time. Sebagai contoh, saat kelas dimulai pukul 10.15, pastikan pukul 10.00 tepat anda sudah ada di gedung kampus dan mungkin bisa meminum cokelat hangat selagi menunggu kelas dimulai.

Jangan khawatir, kelas juga akan diakhiri dengan tepat waktu.

 *     *     *

Nah, lalu bagaimana dengan tugas individu, tugas kelompok, atau bahkan ujian akhir di institusi pendidikan Belanda?

Standart nilai seperti apa yang digunakan di Belanda?

Dalam artikel yang akan di publish malam nanti, saya akan bercerita mengenai hal-hal tersebut secara lebih mendalam sebagai pengenalan sistem pendidikan di luar negeri, terutama untuk mereka yang hendak studi ke Belanda.

*      *     *

Dead with Dignity (2-end) : Death as life’s solution?Indeed,It is happening.

**I tried to write it with English, kindly understand for the limited capability of using foreign language.

I remember one of the most emotional moments I had in Utrecht Summer School. On the previous class about some of Dutch political governments in term of Moslem people there, one of my Hong Kong friends cried and went out a while from the class. “It’s too hard for me to watch it” she said after a video that contains violence, blood, war, and sort of thing shown to the class. It is shown in order to open our mind about what actually some politicians can through media to support or either to criticize others. Furthermore, the video also reflects the ideology and values of politician’s party. In short, it’s shown for education reason.

“That time I did not expect that such condition could happen to me…”

As the second assignment, the lecturers gave us five topics for us to be chosen as our essay topic. There were Drugs, Prostitution, The same sex marriage, Abortion, and Euthanasia. Typical controversial topic, and indeed all of them has their own debatable clashes. At first, I was thinking to take Prostitution since I had a class about Gender study and see the related realities in my hometown, Surabaya. Instead of taking that topic, I cannot stop to think about Euthanasia and finally took it as my topic. At the presentation day, they who had the same topic should gather and present the final opinion. The discussion went as deep as we reveal the reality out there. And I drown into blue since one of my best friends just had his mom got euthanasia action because the bad cancer. That class was just so emotional for me.

*     *     *

A BEAUTIFUL RUNAWAY?

As you can read below this article, I found many unbelievable yet progressive development of this issue. Today, I spent almost two hours to surf all the related web and also videos. Deeply in my heart, I am having a deep grief for everyone who committed the assisted suicide. In fact, there are so many people chose the deadly poison before their life, most of them were having their cancer that time, but the still able to do many things. I mean, they even still can walk and do normal activities! Furthermore, you can find that some of their partner (wife or husband) also join them took assisted suicide with their totally fit condition. Watch : http://www.youtube.com/watch?v=ChKa2b12Yhw&feature=related

In 2008, there’s a young Britain former football player who decided to go to Zurich and had his final exit, he committed suicide and there were his parents with him , accompanying him to Swiss! The reason of his action is his capability after an accident in a training session for forwards. He was practicing a scrum when the pack came crashing down. Under their weight, he dislocated bones in his neck and trapped the spinal cord. In the following weeks he had several operations and spent eight months in rehabilitation, including a stay at Stoke Mandeville hospital, before returning home; he only ever regained a small amount of use in his fingers. Early last month he travelled to Switzerland. His funeral took place in the UK on October 1. Read : http://www.timesonline.co.uk/tol/news/uk/health/article4962436.ece?token=null&offset=12&page=2

...

This web surfing also gives me information that many people decided to take this suicide action not because their physical disability, but the just lost their hope of life.

Legalization of the euthanasia can lead to the misuse of the right to use it.  “Dignitas”. The assisted suicide service in Zurich, Swiss Read : http://assisted-dying.org/blog/2006/02/06/how-to-contact-dignitas-in-switzerland/ . Even my lecturers even got surprised by fact that I found. The organization Dignitas is the most high profile, non-physician group assisting with suicide. Until late 2008, Dignitas was the  only organization catering to foreigners.  The director of Dignitas is the human rights lawyer, Ludwig Minelli. In December 2008, Dignitas received global condemnation when it showed on a Sky documentary the actual death of an American client. Other organizations making use of the liberal Swiss law include Exit Switzerland and the Swiss Society for Humane Dying. No wonder, some people could describe this heavenly beautiful country as : Suicide Tourism.

*     *     *

AN OPINION OF MINE

Maybe not many people talk about it. But just a while, kindly explore some cases, webs, and news related with the option what people called “the right to die”. This writing is written in order to reveal the fact that many people out there is now losing their hope of life because of their mentality depressed, physical disability, and any other reasons. Some of them could be easily understood, but for me most of them are clearly out of my mind.

I cannot say anything more but deep and silent sadness. This is the world that I live in. Personally, I take this not as just a cultural differences, or any political policies, it has deeper issue.

It’s more about the core life values and the way we mean it, day by day, year by year…

There's a story for every single of us. Written by our Creator.

 

By this graceful life, I do hope that everyone could stands their life as long as they can, as strong as they could, with a thankful attitude of every breath that given every morning.  

Please, keep breathing…

 

 

Dead with Dignity (1) : A brand new suicide?

Once,Dr Boudewijn who were available as one of Dutch Voluntary Euthanasia Society forced by a depressed woman name Netty Bommsa. Instead of a real name, it is a foctional name that the doctor gave to an old woman who already lost both of her both twenties age sons because of cancer and suicide. The proposal of end her life was sent to Dr Boudewijn and refused all treatments that could be made that time.As a voluntary doctor of euthanasia, finally Netty Boomsma ended her life as soon as her will. At that time the practice for euthanasia in Netherlands had not been legalized yet numbers been done such way of end someone’s life. Still the Supeme Court of The Netherlands acquitted Dr Boudewijn for a murder, but found the Doctor innocent and did it as the patient’s wish.

* * *

It was 1991, ten years before the present year 2011. On Thursday 28 April Don & Iris Flounders peacefully ended their lives together. Don had cancer, Iris did not want to live on without him. They had been married for over 60 years. Both were members of Exit International. In 2008, when Don was dignosed with cancer, the couple travelled to Mexico to buy the euthanasia drug Nembutal. They returned to Australia bringing the drug with them. Their actions led to police involvement and their house was searched but the drugs were not found

WHAT HISTORY SAYS

As what history has written about euthanasia, it was first used by a historian Suetonius that told and described how the Emperor Augustus “dying quickly and without suffering in the arms of his wife, Livia, experienced the ‘euthanasia’ he had wished for.”In other side, the particular word “euthanasia was first used in a medical term by Francis Bacon in the 17th century as an easy, painless, happy death to escape the suffering physical that might happen.

The practice of euthanasia nowadays can be easily seen in some European countries. In Belgium, reported that 203 people were being euthanized in the forst year of Euthanasia legalization there. Furthermore, we also could find a blissful way to have our death in Switzerland by drink a glass of poisoned cocktail. While many people come there for a touristic experience, “Dignitas” offers an assisted suicides. Dignitas believes that some severe depression can be irreversible and that they just justified in helping the mentally ill to die.

Particularly in this Willem Van Oranje home county, euthanasia practice is legalized by year 2001. At that time, the coalition of socialist and liberals managed to lift up some ban and one of them is allowed the practice of euthanasia. The value of beleid and polder model culture shaped the euthanasia law through The Dutch Courts and the Royal Dutch Medical Association KNMG and decide to : not to prosecuted physicians who followed the guidelines of selecting patients which are : (1) voluntariness – patients request must be freely made, well-considered and persistent (2) unbearable suffering – patients suffering cannot be relieved by any other means, and (3) consultation – the attending physicians should consult with a colleague.

*     *     *

REALISTIC PRO-LIFE

Despite all the pro and cons of euthanasia practice permission in Europe countries, especially The Netherlands, I myself find have two kinds of different yet integrated opinion. As Dutch could not deny their value of permissiveness, I could not deny my own identity as a social human being who is tend to be a pro life person. I strongly disagree for any proposed euthanasia with some ways such and injection and also liquid consumption to end someone’s life. For me it is a proposed murder and a brand new for a suicide action.

There must be a way out for everyone, for sure.

This kind of opinion may lead to the cons that it’s a very idealist and conservative way of thinking, but once again, everything that people do would reflect their own life values. As my Christian values, I believe in no co incidence, including my existence. This life was given as a special purpose. Besides, as a determined human, I also have my life goals and will not give up that easy to euthanasia fantasy. To have some stumble blocks and rocks is not the end of the world that can make me runaway from the reality of life, like what many people do in the term of euthanasia’s missed use such as : 26 year-old ballerina with arthritis in her toes requesting to be euthanized. Apparently since she could no longer pursue her career as a dancer, she was depressed and no longer wished to live. The doctor accepted it and justified it with “one doesn’t enjoy such things, but it was her choice.”

In other side, I should admit for any special case which we cannot do anything but let someone’s life gone. But the process and the motivation behind our decision is also very important to be considered. For instance : If a doctor tell me that one of my relatives just have a 1 % life chance, I will not use euthanasia anyway, but live that chances and working on  it at best for her/his last seconds. The decision of injecting the dead happily liquid will not be the action that I chose. (cont.)

 

*     *     *

Adorable Swiss(2) : Greeting From The Rich Zurich

Ini hanya awal.

Sebuah kota yang menjadi gerbang awal dari kejutan keindahan Swiss nantinya.

Ya, ini hanya pintu masuk,

namun sudut kota Zurich mampu menyihir pelancong yang singgah.

Kali ini,

jatuh hati pada pandangan pertama patut saya akui kebenarannya, hanya untuk Swiss.

ZURICH, the most expensive city.

170811-Zurich menjadi pemberhentian pertama saya di Swiss dari kota sebelumnya yaitu Paris. Kalau dulu saat ada masa orientasi mahasiswa, saya pernah membimbing sekelompok anak dengan nama kelompok Zurich, sekarang saya berdiri di atas tanah tersebut. Kota Zurich merupakan kota yang ramai dan menjadi pusat bisnis di Swiss, gelarnya sebagai peringkat 10 kota termahal di dunia juga membuat saya penasaran sekaligus deg-deg an karenanya. Namun mental dan dompet ini sudah dipersiapkan sedemikian rupa supaya tidak shock dengan tulisan angka yang terpampang selama ada di Swiss. Walaupun mempunyai nilai uang yang lebih rendah dari Euro yang biasa digunakan, harga di Swiss memang jauh, ya saya bilang jauh lebih mahal daripada di Belanda Jadi saran saya, jangan sering-sering meng-kurs kannya ke rupiah, bisa sakit hati.

Contohnya :

Nilai Mata Uang : 1 Euro = 1,13 CHF

Toilet, ya Toilet : 0,50 Euro (NL) = 2 CHF

Air Mineral : 0,60 – 1 Euro (NL) = 3-3,5 CHF

Sambil menantikan teman sekaligus tuan atas rumah yang akan saya tinggali di Swiss selama empat hari kedepan, mata ini mencari-cari letak tourist information di dalam Zürich Hauptbahnhof atau stasiun pusat kota Zurich. Setelah menemukannya, konsultasi tur sehari dan juga penukaran uang Euro ke CHF pun saya lakukan dengan waktu yang bersamaan. Tidak lupa, Swiss Pass juga sukses terbayar mengingat betapa penting dan bergunanya hal tersebut bagi turis seperti saya. Dengan Swiss Pass saya bisa mendapatkan fasilitas transportasi publik di Swiss secara gratis sesuai jumlah hari yang saya tentukan dan mendapatkan banyak diskon untuk berbagai tujuan wisata menarik (sungguh, diskon hanya beberapa puluh CHF akan meringankan beban dompet anda). Walau uang yang dikeluarkan untuk membeli pass ini cukup mahal, nyatanya memang tidak percuma dan justru sangat saya rasakan manfaatnya. *yang ingin lebih tahu mengenai harga yang saya bayar untuk empat hari pass bisa bertanya langsung

Setelah mengeluarkan enam euro koin untuk menitipkan ransel di locker stasiun, saya memulai perjalanan di negeri impian (setelah Belanda) ini. Pada prinsipnya, tanpa mengeluarkan uang selain uang transportasi, anda sudah bisa mendapatkan hiburan. Terutama untuk golongan “bukan anak mall” seperti saya; berjalan-jalan mengelilingi kota sudah sangat membuat bibir ini menyunggingkan senyum seiring kaki saya melangkah memandang ke segala arah kota Zurich. Yang dinikmati pertama kali adalah kota tua yang masih memiliki arsitektur bangunan khas ala Swiss di zaman dahulu.

*     *     *

HALF DAY SELF TOUR

Tepat di samping kanan dan kiri Limmat River, terdapat banyak bangunan indah, perpaduan era modern dan juga kuno. Mengarah ke Bellevue, saya berharap bisa mendapat pemandangan gedung atau kota kuno yang memanjakan mata saya. Tidak salah. Gang di daerah Bellevue yang relatif kecil dan terkadang menanjak, disertai dengan batu batu besar berwarna putih gading sebagai jalannya, membuat saya merasakan pengalaman baru. Lampu lampu antik yang menggantung, warna hangat yang ditonjolkan pada hampir keseluruhan daerah tersebut membuat diri ini semakin betah berjalan kaki mengikuti tourist guide di peta Zurich. Walaupun ada banyak café, mereka tidak mengubah eksterior sedemikian signifikan, namun tetap menjaga keaslian dan ke ‘kuno’ an bangunan tersebut. Pemandangan arsitektur seperti ini belum saya jumpai di manapun, bahkan di Paris.

Dari sana, saya pergi menikmati lukisan di salah satu museum seni terkemuka di Swiss. Jujur, sebelumnya saya bukan tipe orang yang mengamati lukisan. Selain jarang ditemukan di Indonesia (belum populer), hal itu juga bukan menjadi keahlian saya. Namun, sejak ekskursi the The Hague, minat saya terhadap lukisan cenderung meningkat terutama untuk lukisan masa sejarah. Karena itu, mampirlah saya ke Kunsthaus dan membiarkan mata serta imajinasi bermain sekaligus mencari arti dibalik goresan warna tersebut. Sering, saya bertanya pada diri sendiri bagaimana rasanya hidup di jaman dahulu, dengan segala keterbatasan sekaligus menjadi saksi atas hal-hal yang hebat dan luar biasa.

“Untunglah Tuhan menciptakan talenta melukis yang membuat manusia bisa merekam banyak hal melalui kanvas dan tinta minyak berwarna..”

Kunsthaus 1

Kunsthaus 2 Nederlands Painters Room!

Kunsthaus 3. One of my fave!

Masih di daerah Bellevue, saya menikmati danau indah dan juga menyeberang dengan boat yang sudah disediakan. Dengann Swiss Pass, tentu saja fasilitas ini gratis buat saya. Dengan kendaraan ini, saya sampai di sebuah kota berbeda dengan taman yang berbatasan langsung dengan danau dimana kita bisa berenang disana, juga beberapa café dan Zurich Casino. Selama perjalanan dengan boat yang dilengkapi kaca transparan super besar, anda akan dimanjakan dengan pemandangan luas dan jernihnya danau yang dilewati, gambaran sekeliling kota dan juga alam sekitarnya. Ini menikmati Zurich dengan cara yang berbeda. Di musim panas seperti saat itu, saya melihat banyak orang yang secara khusus duduk di tepi danau memberi makan ratusan ekor angsa-angsa putih, berkumpul dan bercanda dengan anggota keluarga yang lain, atau hanya sekedar berjemur di bawah sinar terang mentari.

On the boat 1

On the boat 2

Accros the lake :))

Belum selesai perjalanan setengah hari tersebut, saya masih terlalu girang menyusuri sungai Limmat menuju ke St Peter Church melalui Lindenhof. Untuk sebuah kota modern, Zurich menawarkan pemandangan unik perpaduan keindahan alam serta harmonisnya dua tipe arsitektur yaitu modern dan kuno. Melalui Lindenhof, saya akan terus melihat gang ala Swiss di jaman dulu, ah sungguh menyenangkan walaupun terik menyengat. Udara di Swiss ternyata sangat cerah saat musim panas seperti ini. Tentu, bagi mereka orang Barat, terik matahari menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bahkan dinanti-nanti. Saya? Terpaksa melepas jaket karna kepanasan, masa bodo dengan “gosong” atau tidak “gosong”.

Zurich 1. How can I not love this country?

Zurich 2

Zurich 3

Zurich 4

Tidak terasa bahwa sudah petang, waktu menunjukkan bahwa saya harus kembali ke Zürich Hauptbahnhof. Tiba disana, segera saya disambut oleh Alvin L yaitu temannya teman saya. Sungguh saya merasa sangat beruntung dan bersyukur bisa tinggal di rumah miliknya selama saya ada di Swiss. Dengan pengalaman 4 tahun di Negeri ini, ia juga tidak ragu memberikan tips travelling seiring langkah kami berjalan menyusuri kota Zurich sekali lagi, bedanya, kali ini saya dengan guide yang tahu persis jalan menuju tempat tujuan tanpa harus melihat peta. Terimakasih,ko, untuk menerima dan menampung seorang gadis asing yang pertama kali melakukan solo travelling dalam hidupnya! It means a lot!!

*     *    *

“Saya bukan orang super kaya yang bisa seenaknya menghabiskan uang untuk berlibur ke Eropa, apalagi ke negara kelima paling mahal di dunia tahun 2010..Switzerland..”

Brucke : Bridge

 

Berada di negeri super maju dan inovatif seperti ini, membuat saya terkagum-kagum oleh kasih Tuhan yang telah ada.  Empat hari kedepan pasti penuhdengan cerita dan pelajaran yang akan berguna bagi hidup pribadi saya, apalagi hampir semua perjalanan wisata di Swiss akan dilakukan seorang diri. Tanpa ada bekal bahasa Jerman, Perancis, maupun Italia yang menjadi bahasa lokal di Swiss, rasa khawatir sempat saya rasakan. Namun hati ini percaya, dengan bahasa Inggris pun, semua bisa berjalan dengan lancar. Sungguh, melakukan solo traveling untuk pertama kalinya membuat saya sedikit tegang sekaligus bersemangat dalam waktu yang bersamaan!

 

“Ingin membagi kebahagiaan…

untaian kalimat sederhana yang tertulis ingin mengajak anda turut melihat apa yang mata saya lihat di sana, di Swiss.

ikuti kisah saya, seorang gadis biasa di tengah negeri dengan keindahan alam yang luar biasa..”

Adorable Swiss : Malaikat Pirang Bersepeda a.k.a “gowes”

Kisah di malam terakhir, menjadi kisah pertama yang membuka cerita indah lainnya.

Inilah seorang saya di Switzerland, negeri dongeng. Pemandangan yang saya lihat di buku cerita saat kecil dulu.

Lost in Swiss 1

Neuenhof.. Neuenhof. Kultur Weg, kanan bawah? Hah?”

“Okay Ges kamu bisa melakukan ini. Hanya tinggal mengikuti tanda panah penunjuk jalan, pasti akan sampai ke NH dengan selamat. Dan semoga juga dengan cepat” ujar saya dalam hati menguatkan diri sendiri.

LOST IN SWISS

Saat itu, jarum pendek maupun panjang pada jam tangan sudah melewati angka dua belas, yang mengisyaratkan datangnya tengah malam. Hanya ditemani terangnya bulan bintang penghias malam, suara deru kendaraan yang melintas tepat diatas kepala, dan serangga yang terus bersahutan, saya melangkahkan kaki tanpa henti dan waspada. Di jalan khusus pejalan kaki tepat dibawah tol Wettingen, saya menuju ke arah Neuenhof untuk kembali pulang.

Sendirian tersesat di negeri orang, saya hanya bisa berjalan terus dan berharap bahwa itu adalah arah yang benar. . Baterai handphone yang mati dan tidak berfungsi pun menjadi kendala untuk meminta bantuan. Tidak ada jalan lain, memang saya harus berjalan kaki hingga tiba di depan rumah tempat tinggal saya di Swiss.Berkali kali menelan ludah sambil menyusuri terowongan remang-remang yang penuh dengan gambaran pilox di kanan dan kirinya, saya tidak habis pikir bisa ‘nyasar’ selarut ini di negeri super indah, Switzerland

Semua berawal dari ketidaksabaran saya untuk kembali pulang sehingga mengambil jalur kereta yang lebih cepat, dan sayangnya, tidak berhenti di lokasi yang saya inginkan. Menyadari bahwa salah jalan, sayapun segera turun di stasiun yang letaknya paling dekat dengan Nh dan berencana untuk naik bus atau angkutan umum lainnya. Namun apa mau dikata, semua service bus baru ada untuk service bus malam yang dimulai pukul 01.00 dini hari.

*    *    *

MALAIKAT BERSEPEDAGOWES

Ditengah kebimbangan saya akan jalan pulang, nafas lega pun bisa ditarik seiring mata ini memandang kompleks perumahan. Minimal, ini bukan lagi di bawah terowongan jalan tol , tapi perumahan. Kalau sudah sangat kepepet, mungkin tidak ada salahnya mencoba mengetuk salah satu pintu rumah yang lampunya masih menyala terang dan terdengar ramai. Pikir saya.

Walau lelah setelah seharian menikmati pemandangan super indah di Jung Frau, saya tidak bisa berhenti walau hanya untuk beristirahat. Peta di tangan pun sudah tidak berguna karena tidak menampilkan jalan yang detail, namun jalur kereta dan bus. Seandainya hidup di Eropa, saya berjanji akan beli iPhone supaya bisa menggunakan GPS dengan mudah, seperti yang selalu dilakukan Dennis di Belanda.

“Tuhan, aku  nggak tau mau gimana ini, pokoknya mengikuti arah suara klakson supaya bisa ketemu jalan besar. Tuhan tolong..” ungkap saya dalam hati.

Setelah kurang lebih satu jam berjalan di dinginnya malam musim panas Swiss, saya mendapat pemandangan yang tidak biasa. Sekumpulan perempuan muda sedang bersenda gurau sambil bersepeda tengah malam. Tidak lagi menunggu, kaki saya berlari mengejar mereka dan berteriak saat sudah cukup dekat untuk didengar. Mereka pun menoleh dan berhenti, turun dari sepedanya.

“Excuse me, can I ask you where Neuenhof is?”

“What? Neuenhof?” jawab seorang gadis berambut pirang panjang disertai tatapan mata kea rah teman-temannya, berusaha mencari jawaban.

“Yes Neuenhof this place.”ujar saya sambil menunjukkan peta trem.

“Oh I see, Neuenhof” ujarnya, ternyata saya kurang tepat dalam mengartikulasikan nama jalan yang disebutkan dnegan aksen Jerman itu.

Sekitar lima orang gadis itu pun mengangguk mengerti dan mengatakan bahwa saya sebenarnya sudah ada di kompleks Neuenhof. Puji Tuhan, pikir saya. Lebih jauh, mereka juga bertanya dimana lokasi rumah yang saya ingin datangi. Dengan terpaksa saya mengaku tidak tahu, karena selama ini selalu lancer menggunakan bis dan trem saja. Hanya ada dua petunjuk yang bisa diutarakan saat itu, 1.Dekat dengan stasiun Neuenhof dan 2. Sejajar dengan showroom mobil-mobil Eropa yang terkenal.

Biking Angels

Just an Ilustration

Melihat tampang saya, mungkin mereka menjadi kasihan dan akhirnya rela berdiskusi sejenak untuk mengingat bersama teman-temannya di mana letak showroom mobil tersebut.

“The car showrooms are eight there, you should go straight. When you arrived, you will find another station, its Neuenhof station. I think your place would be near there.”

“Really? So I will go straight there and find it?”

“Yes, we sure that it’s the place you said. But you don’t know the address right? Is that okay?”

“Yes, I don’t know the exact address but I think I will find it soon after I arrive near that area. Oh thank you very much, really. “

“Yes, of course your welcome. And be careful, its very late already.”

“I will, thank you very very much, Im glad to meet you all, guys.” Kata saya penuh dengan kesungguhan sambil melangkah melewati mereka.

Dengan sepeda, mereka pun telah ada di samping saya tidak sampai satu menit. Sayapun berusaha mencairkan ketegangan saya sendiri.

“Hey do you often to do this biking sport this late night?”

“Nooo..” ucap mereka sambil terkekeh-kekeh ceria.

“ Oh I forgot if it’s Swiss, one of the safest countries in the world!”

Kamipun tertawa bersama-sama lalu segera melambaikan tangan untuk mengucapkan perpisahan, mengantar kepergian mereka.

*      *     *

MORE THAN WHAT I EXPECT

Semangat saya meningkat, ketakutan menurun drastic mengetahui bahwa kaki saya sydah berdiri di jalur yang benar, di jalan Neuenhof. Yang harus dilakukan adalah melihat dengan cermat showroom mobil yang dimaksud.

Seraya saya berjalan, bisa dilihat dari jauh bahwa tiga dari lima gadis itu sudah menghilang dan pergi meninggalkan dua orang gadis lainya. Dua orang gadis yang tersisa tadi tidak mengayuh sepeda dengan normal, sejenak mereka berenti dan mengobrol, membuat saya bisa tiba disamping mereka dan bertanya apa yang sedang mereka lakukan.

“We just want to make sure that youre arrived safely.

                             Its too late, and its dangerous even though in Swiss.”

Saya terdiam, hamper terharu dan tidak percya.

“Really?”

“Yes, if you go straight and turn left, it’s the station of Neuenhof. If you go straight forward, you will find the car showrooms. We will go with you. Okay?

Saya Cuma bisa mengucapkan terimakasih dan mengijinkan mereka jadi guide malam itu. Penuh keheranan, syaa tidak menyangka bahwa ada yang akan sebaik ini di Swiss, Switzerland, negeri yang menjadi perpaduan antara tiga Negara berbeda yaitu Italia, Jerman, dan juga Perancis. Kesemuanya adalah negeri barat, yang kata orang dan juga kelas saya adalah orang-orang pragmatis, tidak mempunyai kepedulian sosial sesignifikan orang Asia. Namun memang tidak semua dapat digeneralisasikan, buktinya saya banyak bertemu malaikat tanpa sayap, malahan kali ini bersepeda. Malaikat saya di Swiss.

A Swiss flagged heart with wings 🙂

“Where are you come from?” Tanya salah satu dari gadis berkulit pucat dan berambut pirang itu.

“Indonesia, do you know it?” jawab saya sambil berusaha mengkonfirmasi pengetahuan mereka akan negeri saya.

“Yes, I know. I heard many people go there”

“Yes of course, many European people go there, specially for tanning and also the beautiful beaches. Maybe you’ve been heard about Bali.”

“Ah Bali, its an island right? Maybe I will go to Indonesia someday. But I does need a ery long flight.”

Kami bertigapun tertawa. Dari pembicaraan yang cukup asik itupun saya baru tahu kalau mereka masih berumur 13 tahun! Ah, sya kira mereka juga kuliah seperti saya. Memang secara fisik, orang barat membunyai ukuran yang lebih besar dan terlihat dewasa lebih cepat yah?

Tanpa sadar, saya sudah berada di dekat showroom mobil dan kompleks perumahan yang tidak asing.

“Its near here..” ucap saya sambil mengamati jalan.

Saat yakin dengan satu rumah, saya pun mencoba memasukkan kunci, namun gagal. Tidak kehabisan ide, merekapun malah membantu mencari ruamh yang tepat.

“Who’s your firend’s name?”

“Alvin. Alvin Limoa” Nama teman saya pun terketik rapi di iPhone seorang gadis dan segera terlacak melalui GPS.

Inilah keuntungan penggunaan gadget masa kini, terutama saat dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya untuk update social media dan memberitahu public tentang makanan apa yang dimakan, mood yang sedang dialami, atau bahkan hal-hal yang kadang kurang penting. Tidak hanya lokasi, tapi lengkap dengan alamat, telepon, maupun data singkat teman saya.

Melihat saya telah berhasil membuka pintu, mereka turut senang dan mengucapkan salam perpisahan. Mendatangi keduanya, saya tidak berhenti mengucapkan terimakasih dan selalu mengingat kebaikan mereka. Penuh dengan sukacita, mereka pun mengucapkan selamat tinggal dan selamat beristirahat.

“Take care too, it means a lot for me!” ucap saya sedikir berteriak kearah jalanan, di mana punggung mereka terlihat menjauh.

Tiba dikamar , hanya kesunyian yang menemani keharuan saya. Ini seperti ucapan syukur bercampur perasaan sedih, menyesal, senang, keheranan, ah semuanya. Segera saya berdoa lalu tertidur lelap. Terimakasih Tuhan buat mujizatmu setiap hari di Swiss, terutama hari ini. Terimakasih untuk Ko Alvin yang selalu khawatir kok anakMu ini nggak pulang-pulang, untuk gadis-gadis remaja Swiss yang baik hati dan sangat membantu kepulangan ke rumah di Neuenhof. Besok, saya akan kembali. Ke Belanda.

*     *     *

Ada banyak hal yang saya pelajari dari pengalaman yang cukup menegangkan ini.
  1. Jangan pernah tergesa-gesa mengambil kereta atau trem. Karena bukan waktu Indonesia, semua yang disini sangat tepat waktu, tidak lebih awal, tidak lebih lambat. Saat tertulis akan berangkat pukul 20.45, maka jadilah hal itu. Kalau ada yang berangkat pukul 20.40, isa dipastikan itu bukan trem anda. Tentang transportasi, banyak kawan yang bilang kalau di Swiss, jadwalnya lebih ketat daripada Negara Eropa lainnya. Nampaknya, saya sudah merasakannya secara langsung.
  2. Selalu sediakan baterai cadangan. Sayapun membawa dua buah baterai Blackberry, namun yah, semuanya habis dalam satu hari. Karena itu, berhematlah.
  3. Selalu sediakan pulsa telepon. Pulsa di Eropa memang sangat mahal terutama saat rate uangnya dikurskan ke mata uang Rupiah, namun ha ini akan sangat membantu pabila anda dalam keadaan mendesak dan harus menghubungi orang lain.

Lebih dari itu, saya belajar bahwa memang Tuhan tidak pernah tinggal diam, bahkan lebih dari yang dibayangkan. Sebenarnya gadis-gadis bersepeda itu bisa saja meninggalkan saya malam itu, nyatanya, mereka malah menemani perjalanan pulang ke rumah, bahkan membantu mencarinya dengan GPS. Lebih dari yang saya bayangkan, itu yang disediakan Tuhan bagi anak-anakNya. Selalu andalkan Dia yang selalu peduli, memberi jalan melalui kebaikan hati dan keramahan pemudi-pemudi Swiss di tengah malam tersebut.

*    *    *

Dini hari di Neuenhof, dini hari yang tidak akan saya lupakan.

Dini hari yang Menjadi saksi akan kebaikan hati orang asing pada seorang pendatang yang tersesat, menjadi bukti cinta Tuhan pada ciptaanNya.

It’s Netherlands : “Seal it with Seal” An Evening at Alkmaar.

At a moment, she stopped him in the middle of our conversation and spoke up spontaneously.
“Hey,look. This song. Its a very beautiful song from Seal..”
He nodded. “Yeah, I know, its a beautiful song. Music and the lyric as well..”
then he’s the one who get more excited this time and say his idea..
“Yes,hey..hey.. just remember this song, V. When you hear a good song, you should also remember the moment as well! So from now on, when you hear this song you will remember what happened tonight!”
“Ah , you mean like ‘soundtrack’?”
“Yes, so with this song you will remember you dinner with me, tonight at Alkmaar, your last night in Netherlands. Our last meeting here..”
“Yes, i know.. last night in Netherlands? Time flies..” she had her deep sigh.
The song was perfectly tuned, and the conversation continued. It’s his speech he was doing , then her turn will come. Accompanied with a whole food platter as the dinner which came along with a glass of both red wine and white as their drink.
There they were, share the warmth among the cold and windy rain outside.

De Notaris, From Harleem to Alkmaar, 2011

*      *       *

“Kiss From A Rose”

By Seal

There used to be a graying tower alone on the sea.
You became the light on the dark side of me.
Love remained a drug that’s the high and not the pill.
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and
The light that you shine can be seen.
Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the gray.
Ooh,
The more I get of you,
The stranger it feels, yeah.
And now that your rose is in bloom.
A light hits the gloom on the gray.
There is so much a man can tell you,
So much he can say.
You remain,
My power, my pleasure, my pain, baby
To me you’re like a growing addiction that I can’t deny.
Won’t you tell me is that healthy, baby?
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and the light that you shine can be seen.
Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the gray.
Ooh, the more I get of you
The stranger it feels, yeah
Now that your rose is in bloom.
A light hits the gloom on the gray,
I’ve been kissed by a rose on the gray,
I’ve been kissed by a rose
I’ve been kissed by a rose on the gray,
…And if I should fall along the way
I’ve been kissed by a rose
…been kissed by a rose on the gray.
There is so much a man can tell you,
So much he can say.
You remain
My power, my pleasure, my pain.
To me you’re like a growing addiction that I can’t deny, yeah
Won’t you tell me is that healthy, baby.
But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and the light that you shine can be seen.
Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the gray.
Ooh, the more I get of you
The stranger it feels, yeah
Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the gray.
Yes I compare you to a kiss from a rose on the gray
Ooh, the more I get of you
The stranger it feels, yeah
And now that your rose is in bloom
A light hits the gloom on the gray
Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the gray.

The last night that I will always remember..

It’s Netherlands : One Fine Day & Dining at Harleem

I’m not that bad in dancing, I can do my make up by myself and no need to go to an expensive beauty stylist, either clean up my room and house decorating they are not that hard even though I’m not the best at it. The bottom line is, I quite okay to do (typical) “woman” activities. But COOKING? I don’t even think to try and learn about it.

In fact, when I come into the kitchen with my mom around there, she would say one thing for sure.
“Aduh, ya ampun Ges, ntar tinggal makan aja.. Di sini malah buat heboh..”
Okay, Ill translate it.
“Hey.. Come on Ges, you can just eat it after I’m done with this cooking. You will only make some crowd (read : annoying) here in my kitchen..”
Then, both of my mom and nanny would laugh as I leave that sacred area and of course, wait for those delicious food ahead.

But, guess. I’m a very good chef here, in Netherlands. At least for two dishes : Dadar Jagung and Fuh Yung Hay. Yes, I made it and actually its good (at least for both of us)

CORN COOKIES, how he loves Indonesian Dadar / Bakwan Jagung.

“That corn cookies. The warm and tasty ones. I like them very much..”

“What cookies Denn? Corn cookies?”I asked both to him and myself.

After some time to figure it out, I knew exactly what he wanted me to bring from Indonesia. Dadar jagung or bakwan jagung or corn-cookies is a typical Indonesian snack with corn as the main ingredients. Dennis knew this food for the first time at our COP time, it was his birthday when his ‘house mom’ was cooking it for him. And I amazed by his memory about this food. He does really love it. Really. Maybe he will mention corn cookies as one of his favorite dishes.

*     *     *

LUNCH AT THE TOP OF HARLEEM

It was a quite sunny Sunday when I arrived Harleem. In front of the station, I saw at the very tall – dark blonde hair guy, its Dennis. I was so happy to find him after few minutes of my arrival and have no idea how to get the bus or any public transportation there. Before we went back to his parent’s place, he showed me a very good place to eat in Harleem, especially for this summer. I still remember, it was a roof top with both summer breeze wind and the warm sunshine that has been my place to lunch with Dennis. Since there were so many people, we even should wait for few minutes to get a good spot to sit and eat, a table next beside a wide glass wall where you can have a wonderful sightseeing. For sure, after the “bread & jam routine” at Utrecht, I was so happy to finally eat a bowl of very fresh tomato soup also with a pure orange juice. Ah,its a bliss, especially when you’re in a roof top and able to see Harleem from the top view. Thank you Den, for bring me there, it’s perfect.

Harleem 1

Harleem 2

Healthy lunch finally 🙂

Having a short local tour around Harleem after lunch was a great thing to do. Indeed, he showed me the tipical old house in Harleem, the church, the shopping street, and his favorite beer bar. The city isn’t much bigger than Utrecht, most of the buildings are similar with Delft but, this town is more crowd than my lovely Delft. What I love about Harleem is a street with typical local old houses that Dennis showed me.

Since most of the houses have a lil glass window and a lil thin door also, you can’t really see how’s inside. The width isn’t that long, but indeed they’re quite high and have that traditional brick wall with various warm and land colour. If you go into one of those small old streets, you will find a good feeling of neighborhood, a nice welcome greeting, and also the excitement by so many unique stores that you can’t easily find in a big city.

*    *     *

(NOT) A GROCERY SHOPPING AT Albert Heijn

The short trip was ended and it was the time for us to buy the ingredients needed to make his favourite Dadar Jagung. Came into the Albert Heijn was felt so different when it comes to buy ‘normal’ foods rather than Nutella and whole grain bread only as your shopping list. After a silly discussion about the difference between onion, white garlic and red garlic (which is not available in NL), we bought 2 cans of corn, onion, garlic, Indonesian Sambal Badjak by Conimex [I did not allowed to buy the other brand as he told me so 😦 ], and some grams of lil cute shrimps (eh?).

Some ingredients

“This is my first time to make it Denn, I hope that my mom’s recipe would be done with a very delicious result by me..”

“Haha! I will compare it with my last corn cookies (read: dadar jagung)”

We both laughed, and I deeply said it in my heart ‘I won’t fail, I should not..arrggg’.

*     *     *

WHAT YOUR HOUSE REFLECTS TO OTHERS

Come into his house made me feel so homy, how can’t I ? It’s dominated with white color right from the start. You will find a beautiful white door and big mirror who will greet everyone, your feet will just perfectly comforted by broken white wool carpet that laid. Right behind the second door, I found a big living room, still dominated with white but this time he uses some dark color to make some accents, the warmth and coziness. In some corners, there’re my favorite things shown, flowers, the fresh ones. They beautifully arranged and had a lovely color combination. When you look straight from the living room, there’s a very big glass wall with sliding door on the center. After that? An outdoor wood flooring terrace! They made their terrace bigger than their neighbors, put many plants and flowers there. The special part is the lake, right beside their back terrace..ahhh. Ah..white, flowers, outdoor terrace with lake besides it and the warm ambiance, what else you need for a perfect homy home? I just love his house.

*     *     *

THERE’S NOTHING TO DO WITH PRO AND AMATEUR, BUT : love what you do!

I don’t have much time to get around and adore everything, it’s the time to make it! The corn cookies. So we went to the kitchen next the other side of living room, but still, I adore many things, small things. I wonder how nice it is to see beautiful white flowers next to the kitchen sink,ah, stop. Okay, I was getting so serious to read the digital recipe sent by my mom through BBM and also make sure that what I do was right.

“Hey Viona, don’t get too serious!” said Dennis with that joking intonation

I realized that I just too into it, then smiling.

“Hey, I can not do smoething wrong, I should not. That’s why Im so serious now..hahah! I will not let my corn cookies worse than yours!”

“At least you give me something to do, ‘Ma’am’ I do nothing..”

We both laugh and I found a very nice thing for him to do.

“Okay, you can clean the shrimp..emm.. yup. Clean all of them..”

F  e  w  .  m  i  n  u  t  e  s  .  l  a  t  e  r..

“Ah, s***, ahahahaha! I get bored to clean them up!”

He went back to clean them up right after read my eyes and face.(hehehe)

Chopped the Onion then the shrimp thing!

Both of us actually worried about the corn cookies dough, we tried the dough cooking for three times as trials. The first trial, we knew that we should add more meis flour or maizena flour. The second trial made me add more salt and spices plus maizena flour a little bit more. The third trial? Still more salts needed. But finally we made it!!! It was very delicious! Italian will say fantastico! Of course , its better than his cooking, hihihi 🙂

*     *     *

I let him fried the dough with few complains because of the unshaped corn cookies, but still it was great. While he’s cooking, I made a typical Chinese omelet called Fu Yung Hay with some ingredients that left such as eggs, shrimps, chopped onion and garlic. Surprisingly I can make it, even complete with the sweet sour sauce. So that’s our dinner, the corn cookies and omelet.

:)))

Completing the home made dinner, a bottle of red wine was opened and poured to our glass. Maybe, in Indonesia we will not have red wine with that kind of dishes, but who care as long as it would make both our night and dinner getting fine even more.

The half day trip, the funny cooking time, a nice house and very good conversation absolutely made up my second weekend in Netherlands. Voor alles, hartelijk bedankt, D 🙂