Legowo : The Art of (Self) Acceptance

DIALOG 1
“Tadi gimana presentasiku di depan customer? Feedback donk”
“Hmm tadi slide-nya udah oke, tapi tadi kamu ngomongnya cepet banget.. ya..gitu deh”
“Ah masa sih? Iyaya? Kamu ga tau sih di depan itu AC nya bener-bener dingin, makanya aku agak cepet gitu ngomongnya..“
“Oh..“
DIALOG 2
“Pacar kamu kok ngomongnya kasar sih?“
“Ah, itu artinya dia perhatian. Lagian tadi aku yang salah, makanya dia berhak kaya gitu.”
“Tapi kan..(belum selesai ngomong)
“Lagipula sebenernya dia baik kok, orangnya juga pintar, mandiri pula..”
“Oh..“

Familiar dengan dialog diatas?

*   *   *

Katanya, manusia percaya dengan apa yang ingin mereka percayai.
Manusia juga cenderung mendengar apa yang ingin mereka dengar.

Tidak heran, tanpa disadari, seringkali kita menggunakan modus curhat atau bertanya pendapat orang lain hanya untuk mencari sebuah afirmasi yang mendukung opini kita. Kalau respon yang didapatkan tidak sesuai harapan, biasanya yang timbul adalah pembelaan diri. Kenapa ya?

Di salah satu online magazine asal Inggris, Linda Kelsey mengutip penelitian yang menyatakan bahwa kebahagiaan seseorang sangat dipengaruhi oleh level ekspektasi dan penerimaan tertentu. Mereka yang selalu tampak ceria dan bahagia biasanya tergolong orang yang antusias dengan keadaannya saat itu. Sebaliknya, seseorang yang mudah down seringkali bersikeras mendapatkan sesuatu yang dikehendaki – saat gagal, mereka tidak memiliki kemampuan bertahan menghadapi kenyataan dan jatuh dalam kekecewaan. Eits, bukan berarti seseorang tidak boleh berekspektasi, namun ternyata diperlukan keahlian khusus untuk bisa hidup di masa-kini (present) dan menikmati yang telah dimiliki.

Sekarang, sangat masuk akal apabila seseorang seringkali mencari afirmasi dari sekitarnya. Tidak lain, mereka hanya ingin memenuhi pengharapan mereka sendiri, diterima, dan merasa bahagia. Namun sayang, kehidupan adalah dimensi penuh misteri – bukan drama seri Korea maupun cerita roman vampire yang tren saat ini. Pernahkan anda sakit hati karena dikhianati sahabat? Berapa kali anda menangis hingga tertidur karena ditipu kekasih? Atau atasan anda memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan? Berapa kali kita dihadapkan dengan kenyaatan pahit?

Intinya, shit happens in our life 🙂

Ditengah kompleksnya dinamika hidup, ternyata sebuah cara sederhana dapat menumbuhkan bibit kebahagiaan dalam diri kita. Buang jauh-jauh rasa kecewa, putus asa, atau bahkan rasa apatis anda; sikap menerima dan menikmati apa yang kita miliki saat ini ternyata dapat membuat hidup lebih bahagia. “Dengan menerima kenyataan – baik maupun buruk, seseorang menjadi lebih realistis dan berbahagia. Kedepannya, ia memiliki kemampuan yang lebih untuk mengatasi hal-hal tak terduga, terutama yang dirasa buruk“.ungkap Dr Jose de Jesus Garcia, University of Monterrey.

Menurut Soren Kierkegaard, ada dua cara bagaimana seseorang dapat tertipu. Yang pertama, ia percaya dengan apa yang tidak benar. Yang kedua adalah mengingkari kebenaran. Kita memang bisa memilih untuk menghindari atau menyangkal sebuah realita yang tidak menyenangkan.

Pertanyaannya: Mau sampai kapan?

*   *   *

Untuk kualitas hidup yang lebih baik, mari mulai menerima kenyataan dan menikmati apa yang kita miliki sekarang, apapun itu.

Start your happy life with what you have!

quote-i-decided-very-early-on-just-to-accept-life-unconditionally-i-never-expected-it-to-do-anything-audrey-hepburn-83539

 *   *   *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: