Adorable Swiss : Malaikat Pirang Bersepeda a.k.a “gowes”

Kisah di malam terakhir, menjadi kisah pertama yang membuka cerita indah lainnya.

Inilah seorang saya di Switzerland, negeri dongeng. Pemandangan yang saya lihat di buku cerita saat kecil dulu.

Lost in Swiss 1

Neuenhof.. Neuenhof. Kultur Weg, kanan bawah? Hah?”

“Okay Ges kamu bisa melakukan ini. Hanya tinggal mengikuti tanda panah penunjuk jalan, pasti akan sampai ke NH dengan selamat. Dan semoga juga dengan cepat” ujar saya dalam hati menguatkan diri sendiri.

LOST IN SWISS

Saat itu, jarum pendek maupun panjang pada jam tangan sudah melewati angka dua belas, yang mengisyaratkan datangnya tengah malam. Hanya ditemani terangnya bulan bintang penghias malam, suara deru kendaraan yang melintas tepat diatas kepala, dan serangga yang terus bersahutan, saya melangkahkan kaki tanpa henti dan waspada. Di jalan khusus pejalan kaki tepat dibawah tol Wettingen, saya menuju ke arah Neuenhof untuk kembali pulang.

Sendirian tersesat di negeri orang, saya hanya bisa berjalan terus dan berharap bahwa itu adalah arah yang benar. . Baterai handphone yang mati dan tidak berfungsi pun menjadi kendala untuk meminta bantuan. Tidak ada jalan lain, memang saya harus berjalan kaki hingga tiba di depan rumah tempat tinggal saya di Swiss.Berkali kali menelan ludah sambil menyusuri terowongan remang-remang yang penuh dengan gambaran pilox di kanan dan kirinya, saya tidak habis pikir bisa ‘nyasar’ selarut ini di negeri super indah, Switzerland

Semua berawal dari ketidaksabaran saya untuk kembali pulang sehingga mengambil jalur kereta yang lebih cepat, dan sayangnya, tidak berhenti di lokasi yang saya inginkan. Menyadari bahwa salah jalan, sayapun segera turun di stasiun yang letaknya paling dekat dengan Nh dan berencana untuk naik bus atau angkutan umum lainnya. Namun apa mau dikata, semua service bus baru ada untuk service bus malam yang dimulai pukul 01.00 dini hari.

*    *    *

MALAIKAT BERSEPEDAGOWES

Ditengah kebimbangan saya akan jalan pulang, nafas lega pun bisa ditarik seiring mata ini memandang kompleks perumahan. Minimal, ini bukan lagi di bawah terowongan jalan tol , tapi perumahan. Kalau sudah sangat kepepet, mungkin tidak ada salahnya mencoba mengetuk salah satu pintu rumah yang lampunya masih menyala terang dan terdengar ramai. Pikir saya.

Walau lelah setelah seharian menikmati pemandangan super indah di Jung Frau, saya tidak bisa berhenti walau hanya untuk beristirahat. Peta di tangan pun sudah tidak berguna karena tidak menampilkan jalan yang detail, namun jalur kereta dan bus. Seandainya hidup di Eropa, saya berjanji akan beli iPhone supaya bisa menggunakan GPS dengan mudah, seperti yang selalu dilakukan Dennis di Belanda.

“Tuhan, aku  nggak tau mau gimana ini, pokoknya mengikuti arah suara klakson supaya bisa ketemu jalan besar. Tuhan tolong..” ungkap saya dalam hati.

Setelah kurang lebih satu jam berjalan di dinginnya malam musim panas Swiss, saya mendapat pemandangan yang tidak biasa. Sekumpulan perempuan muda sedang bersenda gurau sambil bersepeda tengah malam. Tidak lagi menunggu, kaki saya berlari mengejar mereka dan berteriak saat sudah cukup dekat untuk didengar. Mereka pun menoleh dan berhenti, turun dari sepedanya.

“Excuse me, can I ask you where Neuenhof is?”

“What? Neuenhof?” jawab seorang gadis berambut pirang panjang disertai tatapan mata kea rah teman-temannya, berusaha mencari jawaban.

“Yes Neuenhof this place.”ujar saya sambil menunjukkan peta trem.

“Oh I see, Neuenhof” ujarnya, ternyata saya kurang tepat dalam mengartikulasikan nama jalan yang disebutkan dnegan aksen Jerman itu.

Sekitar lima orang gadis itu pun mengangguk mengerti dan mengatakan bahwa saya sebenarnya sudah ada di kompleks Neuenhof. Puji Tuhan, pikir saya. Lebih jauh, mereka juga bertanya dimana lokasi rumah yang saya ingin datangi. Dengan terpaksa saya mengaku tidak tahu, karena selama ini selalu lancer menggunakan bis dan trem saja. Hanya ada dua petunjuk yang bisa diutarakan saat itu, 1.Dekat dengan stasiun Neuenhof dan 2. Sejajar dengan showroom mobil-mobil Eropa yang terkenal.

Biking Angels

Just an Ilustration

Melihat tampang saya, mungkin mereka menjadi kasihan dan akhirnya rela berdiskusi sejenak untuk mengingat bersama teman-temannya di mana letak showroom mobil tersebut.

“The car showrooms are eight there, you should go straight. When you arrived, you will find another station, its Neuenhof station. I think your place would be near there.”

“Really? So I will go straight there and find it?”

“Yes, we sure that it’s the place you said. But you don’t know the address right? Is that okay?”

“Yes, I don’t know the exact address but I think I will find it soon after I arrive near that area. Oh thank you very much, really. “

“Yes, of course your welcome. And be careful, its very late already.”

“I will, thank you very very much, Im glad to meet you all, guys.” Kata saya penuh dengan kesungguhan sambil melangkah melewati mereka.

Dengan sepeda, mereka pun telah ada di samping saya tidak sampai satu menit. Sayapun berusaha mencairkan ketegangan saya sendiri.

“Hey do you often to do this biking sport this late night?”

“Nooo..” ucap mereka sambil terkekeh-kekeh ceria.

“ Oh I forgot if it’s Swiss, one of the safest countries in the world!”

Kamipun tertawa bersama-sama lalu segera melambaikan tangan untuk mengucapkan perpisahan, mengantar kepergian mereka.

*      *     *

MORE THAN WHAT I EXPECT

Semangat saya meningkat, ketakutan menurun drastic mengetahui bahwa kaki saya sydah berdiri di jalur yang benar, di jalan Neuenhof. Yang harus dilakukan adalah melihat dengan cermat showroom mobil yang dimaksud.

Seraya saya berjalan, bisa dilihat dari jauh bahwa tiga dari lima gadis itu sudah menghilang dan pergi meninggalkan dua orang gadis lainya. Dua orang gadis yang tersisa tadi tidak mengayuh sepeda dengan normal, sejenak mereka berenti dan mengobrol, membuat saya bisa tiba disamping mereka dan bertanya apa yang sedang mereka lakukan.

“We just want to make sure that youre arrived safely.

                             Its too late, and its dangerous even though in Swiss.”

Saya terdiam, hamper terharu dan tidak percya.

“Really?”

“Yes, if you go straight and turn left, it’s the station of Neuenhof. If you go straight forward, you will find the car showrooms. We will go with you. Okay?

Saya Cuma bisa mengucapkan terimakasih dan mengijinkan mereka jadi guide malam itu. Penuh keheranan, syaa tidak menyangka bahwa ada yang akan sebaik ini di Swiss, Switzerland, negeri yang menjadi perpaduan antara tiga Negara berbeda yaitu Italia, Jerman, dan juga Perancis. Kesemuanya adalah negeri barat, yang kata orang dan juga kelas saya adalah orang-orang pragmatis, tidak mempunyai kepedulian sosial sesignifikan orang Asia. Namun memang tidak semua dapat digeneralisasikan, buktinya saya banyak bertemu malaikat tanpa sayap, malahan kali ini bersepeda. Malaikat saya di Swiss.

A Swiss flagged heart with wings 🙂

“Where are you come from?” Tanya salah satu dari gadis berkulit pucat dan berambut pirang itu.

“Indonesia, do you know it?” jawab saya sambil berusaha mengkonfirmasi pengetahuan mereka akan negeri saya.

“Yes, I know. I heard many people go there”

“Yes of course, many European people go there, specially for tanning and also the beautiful beaches. Maybe you’ve been heard about Bali.”

“Ah Bali, its an island right? Maybe I will go to Indonesia someday. But I does need a ery long flight.”

Kami bertigapun tertawa. Dari pembicaraan yang cukup asik itupun saya baru tahu kalau mereka masih berumur 13 tahun! Ah, sya kira mereka juga kuliah seperti saya. Memang secara fisik, orang barat membunyai ukuran yang lebih besar dan terlihat dewasa lebih cepat yah?

Tanpa sadar, saya sudah berada di dekat showroom mobil dan kompleks perumahan yang tidak asing.

“Its near here..” ucap saya sambil mengamati jalan.

Saat yakin dengan satu rumah, saya pun mencoba memasukkan kunci, namun gagal. Tidak kehabisan ide, merekapun malah membantu mencari ruamh yang tepat.

“Who’s your firend’s name?”

“Alvin. Alvin Limoa” Nama teman saya pun terketik rapi di iPhone seorang gadis dan segera terlacak melalui GPS.

Inilah keuntungan penggunaan gadget masa kini, terutama saat dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya untuk update social media dan memberitahu public tentang makanan apa yang dimakan, mood yang sedang dialami, atau bahkan hal-hal yang kadang kurang penting. Tidak hanya lokasi, tapi lengkap dengan alamat, telepon, maupun data singkat teman saya.

Melihat saya telah berhasil membuka pintu, mereka turut senang dan mengucapkan salam perpisahan. Mendatangi keduanya, saya tidak berhenti mengucapkan terimakasih dan selalu mengingat kebaikan mereka. Penuh dengan sukacita, mereka pun mengucapkan selamat tinggal dan selamat beristirahat.

“Take care too, it means a lot for me!” ucap saya sedikir berteriak kearah jalanan, di mana punggung mereka terlihat menjauh.

Tiba dikamar , hanya kesunyian yang menemani keharuan saya. Ini seperti ucapan syukur bercampur perasaan sedih, menyesal, senang, keheranan, ah semuanya. Segera saya berdoa lalu tertidur lelap. Terimakasih Tuhan buat mujizatmu setiap hari di Swiss, terutama hari ini. Terimakasih untuk Ko Alvin yang selalu khawatir kok anakMu ini nggak pulang-pulang, untuk gadis-gadis remaja Swiss yang baik hati dan sangat membantu kepulangan ke rumah di Neuenhof. Besok, saya akan kembali. Ke Belanda.

*     *     *

Ada banyak hal yang saya pelajari dari pengalaman yang cukup menegangkan ini.
  1. Jangan pernah tergesa-gesa mengambil kereta atau trem. Karena bukan waktu Indonesia, semua yang disini sangat tepat waktu, tidak lebih awal, tidak lebih lambat. Saat tertulis akan berangkat pukul 20.45, maka jadilah hal itu. Kalau ada yang berangkat pukul 20.40, isa dipastikan itu bukan trem anda. Tentang transportasi, banyak kawan yang bilang kalau di Swiss, jadwalnya lebih ketat daripada Negara Eropa lainnya. Nampaknya, saya sudah merasakannya secara langsung.
  2. Selalu sediakan baterai cadangan. Sayapun membawa dua buah baterai Blackberry, namun yah, semuanya habis dalam satu hari. Karena itu, berhematlah.
  3. Selalu sediakan pulsa telepon. Pulsa di Eropa memang sangat mahal terutama saat rate uangnya dikurskan ke mata uang Rupiah, namun ha ini akan sangat membantu pabila anda dalam keadaan mendesak dan harus menghubungi orang lain.

Lebih dari itu, saya belajar bahwa memang Tuhan tidak pernah tinggal diam, bahkan lebih dari yang dibayangkan. Sebenarnya gadis-gadis bersepeda itu bisa saja meninggalkan saya malam itu, nyatanya, mereka malah menemani perjalanan pulang ke rumah, bahkan membantu mencarinya dengan GPS. Lebih dari yang saya bayangkan, itu yang disediakan Tuhan bagi anak-anakNya. Selalu andalkan Dia yang selalu peduli, memberi jalan melalui kebaikan hati dan keramahan pemudi-pemudi Swiss di tengah malam tersebut.

*    *    *

Dini hari di Neuenhof, dini hari yang tidak akan saya lupakan.

Dini hari yang Menjadi saksi akan kebaikan hati orang asing pada seorang pendatang yang tersesat, menjadi bukti cinta Tuhan pada ciptaanNya.

Advertisements

8 thoughts on “Adorable Swiss : Malaikat Pirang Bersepeda a.k.a “gowes”

  1. Tiar September 3, 2011 at 6:07 pm Reply

    Nice, hahaha peri kecil itu telah membantumu menunujukan jalan pulang. Lucu deh pastinya mereka yah Vi. tapi gmn dgn tingkat kriminalitasnya?

  2. yosuakristianto September 3, 2011 at 6:08 pm Reply

    interresante ervaring..

    • G.Viona September 6, 2011 at 1:02 pm Reply

      Yos..itu artinya? 🙂

  3. Miranda September 4, 2011 at 10:14 am Reply

    great story for me vi! as always, it’s a blessing, reminds me again about God, that He takes care, and He cares, and He protects.
    btw, your indonesian is very very good vi… i think i should learn from you… my indonesian sucks big time.. hiks hiks..

    • G.Viona September 6, 2011 at 12:37 pm Reply

      Dear Ce.. Thank you for reading!!!! 🙂 Im so happy to know that you read my blog!!
      Yes Ce, I had no idea about that night, but God took care and he will always take care of me 🙂 hiks
      Thanks a lot for the compliment, Ce. I still should learn a lot to be able to make a good writing.
      I misss youuuuuuuuuuuuuu! hugs. GBU

      Anyway, do you know any good translator with a good price as well? id like to translate this blog, but i cant use my general language. Its different when you want to make an english story.. hiks 😦

  4. fannylesmana September 4, 2011 at 11:28 am Reply

    Aq gak tau gimana, Ges… tapi kamu punya sense bercerita yang luar biasa, di samping kamu punya cukup banyak pengalaman yang gak biasa… someday, you will be a great speaker and writer… But, for right now, I’m really proud of you…

  5. Jezjez Jung Min Hwa September 8, 2011 at 3:23 am Reply

    idem sm bu fanny sm ce miranda^^ hihihi… ga ada comment mereka, aq speechless :p..
    Yang pasti, malaikat Tuhan ada dimana-mana kok,, Hnya org2 tertentu saja yang menyadarinya A.K.A hny orang2 yang dekat dengan Tuhan saja yang bisa menyadari bahwa mrk adalah malaikatNya.. 🙂

  6. Fede G. September 9, 2011 at 7:08 pm Reply

    eh my dear my dear..if only you had decided to visit Italy too!!:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: