Paris 3 : Saat Semua (Masih) Serasa Mimpi

Malam Terakhir di Paris..dan semua masih serasa seperti mimpi.

Bukan makanan Perancis atau makanan barat yang lainnya. Makanan ala Tibet menjadi menu makan malam saya dan Titis malam itu.

Makanan Tibet di Perancis

Sebuah rumah makan kecil di depan Hostel yang selalu dipenuhi orang sejak malam pertama kami di Paris, mengusik rasa penasaran saya. Terlebih lagi, saat ada banyak stiker dan artikel majalah yang terpampang di depan kaca transparan restoran tentang prestasi dan rekomendasi para koki maupun editor majalah terkait mengenai restoran yang baru buka pukul 17.00 ini.Berdua, kami memesan dua buah starter yang berbeda. Titis memesan sejenis lumpia goreng sayuran ala Tibet, sedangkan saya lebih tertarik dengan daging merah yang dipanggang menggunakan bumbu khas Tibet. Semangkuk Sup Mi menjadi menu utama kami sebelum berangkat ke Eiffel untuk terakhir kalinya. Sambil menunggu datangnya pesanan dan membunuh rasa ingin tahu saya tentang rasa makanan Tibet, mata ini tidak berhenti melakukan observasi di dalam restaurant tersebut.

*     *     *

Begitu masuk, anda sudah bisa merasakan suasana khas yang tercipta dari suara pengunjung yang sedang mengobrol seru dengan teman makan malamnya, tentu dalam bahasa Perancis yang menurut saya sangat indah. Interior di dalamnya didominasi oleh nuansa kayu dengan warna cokelat gelap, dari pilar, lantai, hingga meja dan kursi makan. Ide cerdas menggabungkan aksen warna putih dan juga lilin remang-remang pada meja makan membuat restoran tersebut seakan ramah menyapa pengunjung yang datang, menawarkan kehangatan bagi orang yang hendak mengecap makanan Tibet. Sebagai representasi sebuah negara dan juga budaya, ada beberapa hiasan ala Tibet dengan warna cerah yang unik, serta lukisan-lukisan yang menggambarkan Tibet dalam ruangan itu.. Tidak perlu musik yang keras untuk membungkus keindahan malam itu, samar-samar bahasa Perancis pasti membuat anda betah.

Ah, akhirnya makanan pun datang. Saya dan Titis tidak sabar untuk menusukkan garpu dan menyantap hidangan ‘wah’ pertama dan terakhir kami di Perancis. Ternyata posri starter kami sangat masuk akal untuk dua orang. Daging sapi yang terlihat legit pun segera saya iris dan makan. Rasanya? HMM! Ada bumbu khas yang tidak bisa saya gambarkan dengan sempurna. Irisan daging sapi lembut yang dipadu saus asam gurih, ditambah dengan bumbu Tibet yang segar, namun tidak merusak rasa daging itu. Susah ya menggambarkan rasa, anda bisa lihat langsung gambar makanan yang kami santap. Makan makanan Tibet di Perancis? Why not!

Suprise Tengah Malam dari Tuhan di Menara Eiffel

Eiffel memang harus didatangi lebih dari satu kali. Setelah puas melihatnya di saat terang, kamipun hendak mengunjunginya di malam hari. Sungguh, saya tidak menyesal menginjakkan kaki di Eiffel pukul 11 malam dan menghabiskan waktu di sana. Tidak hanya kami tentunya, banyak juga prang yang memadati Eiffel sambil minum wine atau sekedar berbaring bersama kekasihnya di tengah keindahan Eiffel. Di saat malam, ada ribuan lampu yang menerangi rangka menara yang dibangun oleh Gustave Eiffel ini. Suguhan pemandangan super indah dan berbeda membuat kami terus berfoto-foto dan akhirnya kelelahan sampai berbaring di rumput. Saya memang kampungan, berkali-kali saya katakan ke Titis, “Aku di Paris, nggak percaya rasanya..”

“Eh, Ges, tram itu ada ga jam tutupnya?”

“Waduh, ada gak ya, ada kok rasanya. Aku denger dari reception kemarin, tapi gak tau jam berapa”

Sadar kalau sudah hampir pukul 12 tepat, kami pun segera melangkah keluar taman menuju pintu keluar dibelakang Eiffel. Seperti Cinderella saja, kami lumayan tergopoh-gopoh karena tidak mau ketinggalan trem. Kalau di siang hari saja bisa nyasar saat jalan kaki, apalagi kalau malam, bisa nginap di stasiun deh.

Saat  baru keluar sejenak dari pagar taman, tiba tiba kami dikejutkan dengan lampu Eiffel yang berubah warna dan berkelap kelip tiada henti dsertai disambut oleh sorakan para pengunjung yang sangat meriahh! Kami tidak tahu kalau Eiffel akan menunjukkan atraksinya tepat di malam hari!! Ahhh, indah sekali suasana saat itu. Saya dan Titis langsung mengabadikannya melalui video dan juga kamera. Pemandangan yang unik tidak berhenti di sana. Pernahkah anda membayangkan ratusan atau hampir seribu orang berlarian berlomba menuju trem tengah malam di Paris? Ya itu terjadi. Semua orang kalut dan takut ketinggalan trem! Kamipun beruntung mendapatkan 2 kereta terakhir. Tidak bisa membayangkan kalau kami berleha-leha dan akhirnya ketinggalan transportasi satu-satunya ke Hostel. Setiba di kamar, Titis yang kelelahan langsung tidur. Dan saya? Packing tiada henti serta mengumpulkan tanah, rumput, air, kelopak bunga dalam suatu wadah dan akhirnya dibiarkan berembun di pagi hari. Botol transparan tersebut nantinya akan saya bawa ke Indonesia. Elemen bumi dari Negeri Perancis, kota Paris.

Midnight in Paris 1

Midnight in Paris 2

Midnight in Paris 3

“Malam yang sempurna untuk menutup pertemuan kami berdua, perjumpaan yang berawal dari menulis, dari NESO Indonesia, dari Belanda, Negara kesayangan saya.”
Advertisements

2 thoughts on “Paris 3 : Saat Semua (Masih) Serasa Mimpi

  1. elisacerita August 30, 2011 at 12:07 am Reply

    oh myyyy…
    tulisanmu ges, sungguh indah..
    keep writing yee.
    smoga bisa jadi penulis terkenal 🙂

    daaan, seiring dengan kesuksesanmu menjadi penulis, saya bisa mewujudkan impian menjajaki kaki di Paris dengan orang terkasih 🙂
    amiiin..

    • G.Viona August 30, 2011 at 1:32 am Reply

      elisaaaa 🙂
      bisa kesanaaaaaa! Katanya mau cari beasiswa perfilman? sudah belummm?

      makasih buat doanya, nampaknya itu bukan hal terpikir selama ini.. 🙂

      hugs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: