Paris 1 : “Inikah Paris?”

*sorry for the super late update, kindly ask your understanding about the limited inet connection 😦

Another written memories about Paris (1),
the next stop from Belgium, as my round trip after Utrecht Summer School.
Thank you for NESO Indonesia for the precious opportunity!

 

 

*     *     *


“Inikah yang namanya Paris?”

Jadi ini, kota yang sering saya jumpai di tayangan televisi asing, layar perak lokal maupun internasional, bahkan menjadi latar cerita di novel-novel. Saya tidak percaya bisa berada di Paris, Perancis. Sebuah deretan huruf yang sering menjadi simbol kemapanan, kompas untuk gaya para pecinta fashion terkini, dan tentu saja, identik dengan romantisme. Kalau di televisi atau media visual lain, iringan musik klasik atau jazz selalu diperdengarkan saat tiba di scene Kota Paris, apalagi kalau cerita roman. Ditambah dengan gemilap lampu kuning remang di sepanjang jalan, dan juga tulisan dengan bahasa Perancis yang seksi semakin menambah indahnya suasana kota ini di layar kaca.

Sekarang bukan hanya di layar datar berwarna, saya bisa menyentuh, melihat, bahkan menghirup sendiri udara di Paris. Tidak butuh waktu yang lama untuk jatuh cinta dengan kota ini. Daerah sekitar tempat tinggal kamipun sungguh nyaman, penuh dengan arsitektur klasik yang berdempet rapih, bangunannya tidak begitu lebar, namun tinggi. Aksen rangkaian bunga pada balkon kecil di setiap lantai bangunan semakin menambah kesan manis daerah tempat tinggal kami, Mulbert Mutualite Paris Ah, saya merasa ‘sreg’ dengan semuanya di kota ini.

*     *     *

TOUR DE EIFFEL

Tanpa menanti waktu lama, saya dan Titis pun langsung keluar dari hotel dan menuju ke tempat wisata yang tentu menjadi perhatian semua orang di dunia. Ya, itulah Eiffel, Gare du Nord, Ellyese de Champ, rute untuk sore hingga malam hari pertama kami di Perancis. Merasa kelaparan dan ngidam Pizza Italia sejak di Belanda, satu loyang pizza ukuran cukup besar pun kami santap sebelum perjalanan jauh yang didominasi kaki sebagai alat transportasi.

Berawal dari Stasiun Mulbert Mutualite, kami menuju beberapa stasiun yang menghubungkan tram menuju Eiffel. Patut saya akui, membaca peta trem atau kereta bawah tanah di Paris adalah membaca peta dengan tingkat kesulitan 1(Sangat mudah 0 – Sangat sulit 10). Mengapa? Ya! Peta tersebut dibuat dengan ukuran sangat handy, penuh dengan informasi tur yang padat dan jelas. Lebih dari itu, perpaduan warna pastel yang indah namun tetap jelas membuat peta ini semakin friendly  user. Dari keempat negara yang saya kunjungi, penghargaan sistem trem terbaik saya berikan pada Paris!

Rasa deg-degan dan penasaran melihat menara Eiffel sudah saya rasakan sejak di trem. Ya, ini akan menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa,pikir saya. Begitu pula Titis, yang sejak dari trem pertama menuju hotel sudah bingung sendiri menanyakan “Ndi pucuk’e Eiffel?” (Mana puncak menara Eiffel?red.) Kami berdua sungguh ingin segera melihat menara yang begitu terkenal di seluruh dunia. Setibanya di pemberhentian terakhir, kami harus menyusuri beberapa ratus meter dari tempat trem ‘Tour de Eiffel’ berhenti. Selama kami berjalan cepat menyusuri jalan setapak menuju letak menara Eiffel, Titis pun memberikan komentar yang cukup konyol bagi saya saat itu.


“Ealah cilik ya ternyata, tak pikir gede piye ik..” katanya dengan logat yang Jawa Tengah ‘banget’.


Saya pun melotot dan menjawab “Ini kan pucuknya doank yang baru kelihatan, nanti sampai sana, coba aku liat kamu bakal bilang kecil lagi ngga..!”

*     *     *

SOUVENIR 1 EURO?

Di sepanjang perjalanan, anda akan banyak menjumpai orang yang menawarkan berbagai souvenir dengan ukuran dan jenis yang bervariasi. Cara menawarkan souvenirnya memang tergolong tradisional alias maksa dan lucunya, begitu melihat anda, ia akan berusaha mencocokkan bahasa dengan negara asal anda, beberapa kali saya disapa ‘annyonghaseyo’ , atau ‘ni hao’, tapi belum ada yang berhasil bilang ‘apa kabar’. Mereka akan menggoda anda dengan harga souvenir yang katanya cuma 1 euro per piece seperti pajangan, gantungan kunci, lukisan, atau lainnya. Tapi jangan terkecoh, anda bisa mendapatkan harga yang 2 atau 4 kali lebih murah dari harga tersebut. Tidak hanya sepuluh, mereka (para penjaja souvenir) ada ratusan orang dan tersebar di sepanjang jalan! Tidak sampai 1 meter,anda sudah menemukan pasukan pantang menyerah tersebut.

Oleh karena hal ini juga, anda perlu meningkatkan kewaspadaan diri hingga level tertinggi. Tentu tidak ada yang mau kecopetan di tengah keramaian dan kebahagiaan ribuan orang di Eiffel kan?

*     *     *

EIFFEL, WE ARE IN LOVE

Hanya satu kata “Waaaah” yang diucapkan dengan mulut ternganga. Itulah reaksi saya saat melihat keindahan arsitektur menara Eiffel. Saya dan Titis disambut dengan pemandangan yang luar biasa. Keempat kaki penyangga Eiffel yang kokoh menjadi pintu gerbang dan juga atap bagi banyak toko maupun taman di bawahnya, ribuan orang membanjiri area tersebut dan serasa tidak lelah untuk terus berfoto. Kamipun memutuskan untuk turut menikmati menara Eiffel dari sebuah taman yang berada di dekat sana. Dengan duduk di taman tersebut, kita bisa melihat Eiffel dari perspektif yang lebih rendah, sehingga puncak menarapun bisa terlihat jelas. Begitu banyak kumpulan keluarga, anak muda, bahkan pasangan mesra pun ada di sana dengan tujuan yang sama, mengecap megahnya Menara Eiffel dan menikmati suasana hangat yang tercipta disana.   Sungguh, berada di sana rasanya sangat menyenangkan dan penuh semangat! Melihat semua gairah dan antusias yang ada, membuat saya merasakan energi yang benar-benar positif di sini.

Eiffel 1


Hasil Karya sayaa! 🙂 Tis, lucu yaa!

 

In Paris?

 


Setelah puas berfoto, saya dan Titis tiduran sejenak memandang Eiffel.

“Aku ga percaya bisa ke Paris. Dan bukan buat honeymoon..”ujar saya ke Titis.

Ia pun tertawa kecil. Saya tahu, Titis bisa saja sedih dan senang dalam waktu bersamaan. Karena bukan single super bahagia seperti saya, ia pun tentu sempat mengharapkan bahwa orang yang dikasihinya ada disamping melihat Eiffel bersamaan. Sayang, pangeran tercintanya sedang di negeri Koala,jauhhh dari Eropa. Namun saya percaya, vitamin B layaknya bisa diusahakan juga. Waktu yang dihabiskan di sana membuat kami lebih lagi akrab satu dengan yang lain, hingga akhirnya kami dikejutkan oleh seseorang.


“Eh, orang Indo ya?”

“Iya” jawab Titis dan melanjutkan pembicaraan dengan ramah serta akrab.


Sedangkan saya menatap dengan penuh curiga. Jujur, saya memang jadi super waspada saat di Paris, terutama Eiffel. Keamanan barang pribadi benar-benar saya utamakan. Siapapun dicurigai, termasuk pria baik asal tanah air yang bermaksud untuk mengenal kami berdua. Nyatanya, malah ia yang membantu mengambil foto kami berdua.Ternyata, ia adalah seorang pria Indonesia yang hendak menempuh pendidikan di Perancis dan telah tiba di negeri roman ini beberapa  hari sebelum kami. Sayang, kami tidak bisa berkelana menyusuri Paris bersama karena keterbatasan waktu dan juga jadwal yang sudah dibuat sebelumnya. Semoga kami bertiga bisa bertemu lagi suatu saat nanti, di Eropa, tentu, mungkin di Belanda.

Belum berhenti sampai di Eiffel, kami pun meneruskan wisata ke Arch de Triomph dan juga Cham de Elysees. Dengan menyusuri jalan Champ de Elysees, kita bisa menikmati deretan toko ala Paris atau juga brand-brand terkenal yang pastinya sudah anda kenal di Indonesia. Mulai dari pakaian, parfume, hingga bar-bar yang penuh sesak ada di sepanjang jalan menuju Arch de Triomph ini. Setibanya di sana, kami hanya berfoto beberapa saat, lalu duduk beristirahat karena kelelahan berjalan seharian, dari langit masih terang, hingga gelap pekat yang hanya diterangi bintang. Menyadari bahwa hari kedua di Paris keesokan harinya akan sangat panjang dan padat, kami berdua memutuskan untuk kembali ke hostel tercinta dan beristirahat.

One of the tram station! 🙂

Should wait for the line to have this area clear enough to be captured 😮


Hari pertama di Paris sungguh menyenangkan. Tidak sabar untuk menyambut hari kedua di kota ini!

Advertisements

15 thoughts on “Paris 1 : “Inikah Paris?”

  1. ArthonDesign August 26, 2011 at 12:48 pm Reply

    Nice place to take some pictures!

    • G.Viona August 28, 2011 at 5:44 am Reply

      Iya sam!!!! 🙂 Sayang tidak bersama fotografer handal dan kamera yang memadai. hihihi 🙂
      Thanks a lot for reading!

  2. elisacerita August 28, 2011 at 2:23 am Reply

    thanks GOD ya Ges. finally you there…
    hehehehhe…

    Paris romantis banget pasti ya ><
    huaaa, jd pengen ke sana
    🙂

    • G.Viona August 28, 2011 at 5:40 am Reply

      Romantis? Iya el, suasananya memang gitu, ya tergantung juga kamu pergi bareng siapa, hihihi 🙂

      you will be there kok el, have faith in yourself! 🙂

      Thank you for reading!

  3. ArthonDesign August 28, 2011 at 2:22 pm Reply

    hehehe coba kamu buka lowongan fotografer ges ^^

  4. Fanny Lesmana August 28, 2011 at 2:43 pm Reply

    penutur yang baik… foto2 yg diambil juga cantik… viva super single yang happy :):):)

    • G.Viona August 28, 2011 at 4:48 pm Reply

      Bu, lama sekali tidak membaca Blog saya yah? 🙂 terimakasih buat waktunya, bu fanny 🙂

      indeed, super happy single 🙂 hihihi.

  5. Silvia Hadrun August 28, 2011 at 7:34 pm Reply

    wahhh dari tulisannya bisa terasa keindahannya 🙂

    • G.Viona August 28, 2011 at 11:33 pm Reply

      Ayo ci kesana aja 🙂 Second honeymoon 🙂

  6. zilko August 31, 2011 at 4:20 am Reply

    Jadi nggak sabar nih! 4 minggu lagi aku juga ke Paris, hehehe 😛

    Btw, souvenir 1 euro-nya itu apa? Masa sih bisa dapat lebih murah!? Jadi excited nih, hehehe 😀

    • G.Viona August 31, 2011 at 6:22 am Reply

      Zilko, hai! 🙂 Sudah tau rute nya di Paris belum? Bisa nih konsultasi gratis, peta nya kaya nempel di aku, ahahaha 🙂

      Iya ada kok. Aku lanjutin ke email kamu yah. Hihihi. 🙂 Senangnya ke Paris. Mau donk nitip. Hahaha *maunya..

      Semoga bacaannya membantu yah, Zilko! 🙂

    • G.Viona August 31, 2011 at 6:37 am Reply

      Email sent already.

      Okay,semuanya! Any advise needed about Paris trip, souvenirs, foods? Ask me! Hahahaha.
      *Amateur travel agent 🙂

  7. Titish September 27, 2011 at 3:38 pm Reply

    Logatku nggak gitu kali, geeeeees 😀

  8. dedy January 6, 2014 at 5:40 pm Reply

    halo mbak, tulisannya sangat menarik. Sy rencana akhir bulan ini ke sana. Ada rekomendasi penginapan di paris? tks

    • G.Viona January 7, 2014 at 4:45 pm Reply

      Hai Mas Deddy!

      Terimakasih atas pertanyaannya.
      Kebetulan saya baru sekali ke Paris. Saat itu saya menginap di Hotel Du Commerce. Walaupun namanya “hotel”, menurut saya penginapan ini lebih cocok dikategorikan hostel. Kalau Mas tidak keberatan dengan fasilitas yang sederhana, tidak ada salahnya menginap di Du Commerce karena lokasinya sangat strategis (dekat dengan jalur kereta bawah tanah, Saint Germain, Gereja Notre Dame, dan Latin Quarter)

      FYI, penginapan ini tidak ada liftnya. Seperti yang sudah saya ceritakan di blog, saat itu, untuk mandi harus bayar 2 euro. Tapi overall, tempatnya nyaman untuk beristirahat dan juga bertemu traveller lain. Menurut saya, penginapan ini lebih cocok untuk traveller dewasa atau tanpa anak2 :))

      Barusan saya cek di hostelworld.com, ratenya masih Rp 500ribu- an per malam.

      Semoga membantu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: