Belgium 1 : “Brussels oh Brussels” Pengalaman pertama dan (mungkin) terakhir.

“It is ugly and we love it. If we don’t, we live with it.”

Itulah kalimat pertama yang ada dalam buku panduan gratis dari hostel tempat kami menginap. Hostel Sleep Well bisa dibilang baik, dan tidak mengecewakan. Rekomendasi untuk beristirahat disini didapatkan dari sebauh buku travelling yang ditulis oleh anak negeri. Memang, tempat yang nyaman untuk ditinggali. Berbeda dengan hotel, hostel itu sering dipakai untuk para backapkers karena minimnya budget yang perlu dibayarkan, tapi, anda juga diharapkan untuk mempersiapkan keperluan pribadi seperti sabun, shampo, pasta gigi dan lain-lain. Sebaliknya, kalau anda tidak membawa perlengkapan tersebut, anda dipersilahkan untuk beli di resepsionis ataupun supermarket terdekat.

Tidak hanya perlengkapan, anda sebaiknya juga tidak mengharapkan adanya bell boy ataupun pegawai hostel yang bersedia membawa seabrek bawaan anda karena memang sumber daya manusia yang ada di dalam hostel sangatlah terbatas dan kita diharapkan menjadi visitor yang ‘mandiri’.

Setibanya di kamar hotel, saya dan Titis langsung membaringkan diri sambil membaca peta Belgia dengan teliti, menentukan tempat yang akan dikunjungi sore itu. Melalui peta yang didesain sangat anak muda itu, kami juga tahu bahwa jarak dari satu tempat ke tempat lain tidaklah memakan waktu yang lama. Karena hal itu juga, kami memutuskan untuk menutup mata, beristirahat kurang lebih dua jam hingga pukul 3, supaya ada tenaga untuk menyusuri kota ini.

*      *      *

BRUSSELS IN A NIGHT

Sesuai dengan janji yang disepakati sebelumnya, saya dan Titis pun bertemu dengan beberapa peserta Utrecht Summer School seperti Mirim, Chloe, dan juga Ben di Starbucks Brussel Central pukul 6 sore. Tidak ada yang terlambat, kami semua datang tepat waktu dan segera mencari rumah makan terdekat untuk memuaskan rasa lapar yang sudah melanda sedari sore.

Tidak ingin membuang banyak waktu, setelah makan, kamipun segera berjalan-jalan untuk menyusuri kota Brusells. Ada beberapa hal yang menjadi ikon atau ciri khas kota yang merupakan ibukota Eropa ini, yaitu :

a. Waffles.

Ya, ada waffle atau pancake yang dicetak dengan pola kotak-kotak dimana-mana. Mulai dari pedagang pinggiran jalan yang menyebarkan aroma butter yang sungguh menggoda, hingga toko dengan dekorasi cukup mewah untuk sebuah waffle. Tidak ingin penasaran, saya dan Titis mencoba sebuah waffle untuk dimakan bersama. Jenis Waffle yang kami coba adalah street waffle dengan gula di dalamnya.
Paduan tepung dan telur yang sudah dipanggang hangat dengan gula lumer didalamnya membuat saya merasakan perbedaan waffle yang biasanya dijual di Indonesia. Tentu, waffle yang ini lebih berisi dan menggigit, hmm. Anda juga bisa menambahkan topping yang diinginkan seperti aneka selai, buah dan juga krim karamel yang populer. Harganya? Cukup 1 -2 euro anda sudah bisa menikmati waffle yang mengenyangkan.

b. Surga Cokelat.

Saya belum googling sejarah coklat di Belgia, penasaran juga kenapa kok coklat Belgia bisa sangat populer dan terkenal seperti saat ini. Merk seperti Godiva dan Guylian mungkin sudah bisa didapatkan di Indonesia, karena itu saya memilih cokelat khusus yang ada di Belgia untuk orang tua dan sahabat saya. Cokelat seperti apa yang anda inginkan, bisa didapatkan di daerah Rue de L’tuve dan sekitarnya. Dihadapkan dengan ratusan toko dengan berbagai tawaran menarik akan membuat anda melirik, minimal hanya melihat isi toko dan dekorasinya yang unik untuk masing-masing bangunannya. Coklat isi alkohol, isi buah, bahkan coklat berbentuk tokoh komik yang memang terkenal seperti Tin-Tin dan Smurf bisa anda jumpai, silahkan memilih!!

c. Fried Fries.

Kentang goreng dimana-mana. Titik 😉

d. Mannekin Pis.

Sebuah patung anak kecil yang sedang (maaf) buang air kecil merupakan patung yang sangat populer disini. Ukuran patungnya amit-amit sangat kecil untuk sebuah ikon kota. Well, anyway, ia sangat dicintai wisatawan. Bahkan, saya sempat berdesakan dengan yang lain untuk mengambil foto anak kecil itu. Jangan salah, anak kecil ini juga berganti pakaian setiap bulannya yang disimpan dalam City Museum. Pakaiannya bahkan bisa lebih mahal daripada baju pesta anda. Patung Mannekin Pis ini selalu mempunyai kostum yang didesain khusus oleh Jean-Marc.

e. Bahasa Indonesia.

Saya cukup terkejut, banyak dari penjual souvenir yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Hal ini cukup unik dan membuat saya teringat kejadian lucu di kereta menuju Brussel.
Saat pengecekan tiket, saya pun memberikan Eurail Pass pada petugas yang bertugas. “Apa kabar? tanya pria berambut pirang gelap dengan empat tindik di kedua telinganya. Saya yang terkejut pun menjawab dengan bahasa Indonesia pula. Setelah mengecek tiket, ucapan salam terimakasih juga dilakukan di Indonesia. Yang lebih mengejutkan, sejak saat itu, pengumuman kedatangan kereta di stasiun tertentu (dilakukan di setiap stasiun yang dilewati) bertambah. Tidak hanya bahasa Belanda, Perancis dan Inggris, melainkan juga ada Bahasa Indonesia! “Para penumpang yang terhormat, selamat siang. Saat ini kita telah tiba di Stasiun Brussel Center. Harap memepersiapkan barang bawaan anda…”
Tidak bisa menahan senyum, saya pun tertawa sendiri di tempat duduk. Senangnya, mendengar bahasa Indonesia setelah sekian lama.

*      *      *

Itu dulu tentang Belgia, khususnya Brussels. Sejauh ini saya akan memilih untuk tidak datang dua kali ke Negeri yang dulu pernah jadi bagian dari Belanda.

Bukan hanya tempatnya, objek wisatanya pun kurans menarik bagi saya. Tapi tidak apa, saya akan terus lanjutkan eksplorasi di pagi terakhir ini, sebelum melanjutkan ke : PARIS

Mannekin Pis in Chocolate with Waffle? Cukup representatif 🙂

Mannekin Pis

Mannekin Pis

Choc for More?

Choc for More?

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

3 thoughts on “Belgium 1 : “Brussels oh Brussels” Pengalaman pertama dan (mungkin) terakhir.

  1. Chrysant August 18, 2011 at 12:46 am Reply

    Hai Viona,
    senang mengikuti perjalananmu, jadi teringat petualanganku juga dulu 🙂
    Aku juga pertama kali merasakan hostel itu di Belgie. Seru kalau beramai-ramai dengan teman ya.
    Brussels memang tidak terlalu menarik. Bagian dari Belgia yang cantik itu kota kecil yang bernama Brugge, kota tua sekali, mungkin kalau kesana kamu akan kepingin berkunjung lagi 🙂
    Met jalan-jalan! 🙂

  2. zilko August 31, 2011 at 4:15 am Reply

    oh, menarik banget! Selama di Eropa belum pernah deh dapat pengalaman di kereta yang pengumumannya pakai bahasa Indonesia gitu! You are lucky! 🙂

  3. […] ini tidak begitu menjanjikan :-S Ketidakmenarikan kota ini bahkan sudah diiyakan oleh Geges melalui blognya :p Karena sudah tahu dari awal bahwa Brussels kota membosankan, saya jadi tidak terlalu berharap […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: