Walking The Peacefulness of Delft

Jadi, banyak sejarah yang terukir selama pengalaman Summer School saya di Belanda. Genap tujuh hari sudah saya menghidupi mujizat yang sudah diberikan Tuhan secara special melalui NESO Nuffic Indonesia.

Tentu saya patut berterimakasih atas keberadaan organisasi ini, yang secara khusu membantu kita untuk merencanakan dan memepersiapkan studi lanjut di Belanda. Tidak hanya itu, NESO Nuffic juga sudah membuktikan keberhasilannya dalam meningkatkan awareness masyarakat Indonesia akan kelebihan studi di Belanda, salah satu hasil nyatanya adalah banyaknya peserta Kompetiblogg tahun 2011 ini. Sungguh, tidak akan saya sia-siakan kesempatan yang diberikan saat ini.

Kembali ke sejarah, memang banyak hal baru yang terjadi dalam hidup saya satu minggu ini. Oke, saya tidak pernah pergi ke museum local Indonesia sebanyak saya pergi ke museum di Belanda. Ha? Museum? Pasti membosankan? Awalnya sayapun berpikiran seperti itu, namun salah besar. Kalau di Indonesia, saya pergi terakhir kali ke museum itu saat SD kalau tidak salah, sekarang malah museumnya sudah ditutup dan tidak dapat dikunjungi. Sayang sekali. Dalam kesempatan Utrecht Summer School ini, saya ditugaskan bersama teman sekelompok untuk pergi ke salah satu yang ada dalam list, kamipun memilih Delft.

* * *

KNOW ITALIAN & ITALIA DEEPER
Saya bersama Federica adalah kelompok yang akan mengobservasi Delft. Kami awalnya bertiga bersama gadis dari Taiwan, namun karena suatu hal, Emily pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke Delft dan melakukan ekskursi di Utrecht saja. Tapi tidak menjadi masalah, saya dan Federica juga sudah merasa cocok satu dengan yang lain, kami senang bertukar pikiran mengenai budaya, sistem pendidikan, bahkan hingga soal makanan di Indonesia maupun Italia.
“Have you ever try Italia Pizza? The Real Italiano..?” Tanya Gadis berambut coklat ini kepada saya dengan logat Italianya yang sangat kental.

“The real Italia Pizza? I don’t think so. There are so many Italian Restaurant in my country, but I doubt that its real.” Jawab saya sambil menahan lapar membayangkan pizza Italia.

“Oohhh… Many restaurants say that they have the real one, but I know Its Fake! You have to use Italian water to make Italian Pizza! The taste would be different with dfferent water..”ujar Federica semangat.

Saya pun merasa sangat terkejut akan fakta bahwa air yang diguakan pun harus khusus supaya dapat memepertahankan cita rasa italianya. Wow, pikir saya. “Kelihatannya mama saya harus ke Itali supaya berhasil buat pizza.” Ungkap saya dalam hai sambil terkekeh.

Obrolan ringan seperti itu membuat saya dan Federica menjadi lebih dekat satu dengan yang lain selama perjalanan ke Delft. Di kereta itu, saya juga sempat memberikan pembatas buku batik dan juga pensil dengan hiasan wayang di atasnya. Souvenir seperti itu memang sengaja disiapkan untuk teman-teman foreigners yang ada di Summer School. Saya senang melihat ekspresi Federica yang terkejut sekaligus bahagia menerima souvenir sederhana itu. Dengan singkat, saya pun menjelaskan karakter wayang dan juga batik yang ada di sana.

Tidak terasa, kami sudah tiba di Delft. Sungguh saya penasaran akan kota yang kata teman-teman Belanda saya ‘Kota Cantik’. Hanya butuh sekitar 2 menit dari stasiun untuk berjalan kaki menemukan jantung kota Delft.Saya terkesima.
Mata saya dimanjakan oleh pemandangan klasik ala Belanda dengan jembatan kecil yang menghubungkan jalan-jalan setapak, tepian sungai yang dihiasi oleh sekumpulan bunga kecil berwarna warni cerah, keceriaan kota tersebut juga bertambah dengan bertenggernya kanal-kanal mungil yang dihias dengan berbagai ornamen bunga dan kain berwarna warni. Ah, baru dua menit dari stasiun, saya sudah disambut begitu ramahnya, saya jatuh cinta dengan Delft.

* * *

WILLIAM OF ORANGE’S CHOSEN PLACE TO REST
Bukan kota metropolitan, pastinya. Teman-teman baik saya pasti tahu betapa saya mempunyai sisi konservatif yang lumayan kental, tidak terlalu menyukai keramaian, mencintai alam lebih dari mall dan baju bermerek. Delft merupakan kota kecil yang merepresentasikan keadaan Belanda di masa lampau. Bangunan dan juga suasana kotanya memang sengaja dirawat sesuai dengan kondisi aslinya agar bisa dinikmati oleh para turis maupun penduduk yang tinggal di sana. Dengan populasi yang kurang lebih 100.000 orang, kota ini cukup ramai namun tidak penuh sesak dan lalu lalang seperti kota besar lainnya. Ternyata tidak hanya saat ini, kedamaian di Kota Delft ini juga sudah ada sejak dulu. Tidaklah heran kalau pada tahun 1572, William of Orange , salah satu tokoh pahlawan yang terkenal di Belanda, memilih kota mungil nan manis ini sebagai tempat peristirahatannya, yang jauh dari hiruk pikuk kota besar dengan penuh tekanan politik yang ada.

Cerita tersebut juga saya ketahui setelah melakukan rentetan tur museum dan gereja bersama Federica pada hari itu. Percayalah, semua kunjungan tersebut sangat menarik. Museum Het Prinsenhof menyuguhkan tur sejarah yang kronologis dan apik, dilengkapi dengan gambar maupun lukisan yang sangat jelas, disertai pula oleh keterangan sejarang yang jelas dan padat Anda bisa merasakan atmosfer sejarah yang terkadang membuat merinding, merasuki pikiran anda dengan gambaran perjuanan manusia di jaman dahulu untuk melakukan sebuah perubahan besar, dan membuat anda menyelami sekaligus menghargai sejarah yang pernah terukir, baik di Belanda, Indonesia, dan dimanapun.

Di Museum Het Prinsenhof ini kami menilik lebih dalam bagaimana proses perjuangan Belanda melewati peperangan agama yang pernah terjadi, dan juga perjuangan William of Orange memimpin pada masa tersebut. Tragis, pemimpin yang juga sering disebut dengan William of Silent ini tewas karena ditembak oleh salah satu pendukung pihak oposisinya. Beliau tewas seketika saat diserang waktu menuruni anak tangga setelah makan siang bersama istrinya. Di museum ini juga ditunjukkan bekas peluru yang menembus badan William of Orang dan akhirnya membuat lubang di tembok tersebut. Dituliskan pula, kata-kata terakhir yang diucapkan adalah “Mijn God, heb meelij met dit arme volk” (My God, have pity on me and these poor people)

Setelah ke Museum Het Prinsenhof, kami berjalan menyusuri Oude Kerk dan Niew Kerk yang jaraknya tidak terlalu jauh. Dalam Oude Kerk atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Old Church, saya tidak berhenti terkesima dengan bentuk bangunan yang begitu megah, diukir dengan sedemikian rupa dan menciptakan suasana mistis didalam gedung yang juga digunakan sebagai tempat pemakaman banyak orang penting. Kuburan mereka ada di bawah lantai sehingga mau tidak mau saya harus menginjak batu-batu bergambar tengkorak atau sekedar tulisan-tulisan nama yang terukir dalam bahasa Belanda maupun latin. Saya tidak biasa menginjak-injak batu nisa, Federica pun tertawa melihat saya berjinjit-jinjit takut menyusuri ruangan dalam gereja tersebut. Begitu pula dengan Niew Kerk atau gereja baru, tempat ini menjadi lebih spesial karena ada makam William of Orange di dalamnya.

* * *

PEACEFUL DELFT, I HEART YOU
Menakjubkan. Itu merupakan kata yang tepat menggambarkan perasaan saya setelah melewati hari belajar sejarah tentang Belanda, khususnya William of Orange. Melayang sejenak ke masa lampau dan memahami apa yang sempat terjadi sebelum jaman ini merupaka hal yang luar biasa. Memang benar kata Soekarno soal jas merah, jangan pernah melupakan sejarah, Nampaknya Belanda sangat menghargai cerita lama yang pernah terjadi dalam proses pembentukan negaranya sendiri, segala bentuk bukti sejarah terawat apik melalui museum ataupun gereja yang ada di Delft. Karena itulah, hari menyusuri museum tidak menjadi membosankan, malah menarik untuk dilakukan.

Hal ini juga didukung dengan suasana Delft yang “saya banget”. Orang orang di kota kecil ini cenderung lebih ramah apabila dibandingkan dengan kota tempat tinggal saya yaitu Utrecht. Di tepi sungai anda bias menemukan berbagai pedagang kali lima yang menawarkan barang-barang antik khas Delft, dari lampu-lampu kuno, lukisan, hingga keramik biru putih yang pastinya sering anda lihat. Ya, memang Delft terkenal akan keramik porselen biru putih yang digambar dengan pemandangan ala Delft maupun Belanda. Warna warni bunga juga menjadi penyemangat saya berjalan kurang lebih 5 jam menyusuri kota tersebut, dari satu museum ke museum lain, dari satu gereja-ke gereja lain.

Saya dan Federica sepakat akan satu hal, kami mencintai mungil dan indahnya nya kota ini. Suasana hangat dan juga kemudahan akses untuk mengekskursi kota ini menjadi hal yang paling utama. Kejenuhan tinggal di kota besar bisa diobati dengan cepat di detik pertama kami menginjakkan Delft, kota kecil penuh kedamaian, sarat sejarah dan makna.

Old Church's Tower

Old Church’s Tower

Around Delft 1

Around Delft 1

Around Delft 2

Around Delft 2

W V O

W V O

The Prince and His People

The Prince and His People

Oude Piano!

Oude Piano!

Walking the Tomb(s)?

Walking the Tomb(s)?

Added things? Souvenirs!

Added things? Souvenirs!

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

7 thoughts on “Walking The Peacefulness of Delft

  1. tikeu August 7, 2011 at 11:30 pm Reply

    hey… seems like I saw you in delft on that day… klo tau dr indo pasti tak sapa.. hehe.. *greeting from wageningen.. 🙂

    • G.Viona August 8, 2011 at 5:05 pm Reply

      Tadi sama kaya Ve juga yah? Wah senangnya, harusnya disapa donk (~_~) haha! Kemarin dalam rangka tugas summer school tuh. Suka Delft ga?
      Udah lama yah disini?

      Nice to meet you here 🙂

  2. vewindiastri August 8, 2011 at 12:47 am Reply

    Hai, salam kenal. Guess what? Sepertinya kita ketemuan (selisih jalan) di Delft. Aku dan 2 orang temanku jg berkunjung ke Delft di hari yg sama (4/8, your photos told me about it).
    Hari itu (sekitar 16.30) jadwal kereta lagi kacau, jd kereta Intercity ke Den Haag ga lewat dan sprinter ke Den Haag telat. Pas nunggu kereta, temenku bilang: “Kayanya dari tadi kita barengan sama mereka ya?” sambil nunjuk 2 cewek, yg satu pirang dgn tas ransel (kalo ga salah biru) dan yg satu berambut hitam (tp ga inget detailnya). Ga nyangka temen yg kumaksud tadi nemuin blog ini pas searching tentang Delft. Jd aku berpikir, sepertinya itu kamu yg dimaksud oleh temenku.
    Salam kenal ya. Kalo ada waktu main ke Wageningen. Ga semetro Utrecht, tapi banyak anak Indo yg ngekost di sini 🙂

    • G.Viona August 8, 2011 at 5:03 pm Reply

      Gyaaaa \(^o^)/ serius ? Dimanaaa? Maaf aku gak perhatikan! Wah, seru banget ya pasti kalau anak Indo bisa kumpul bareng. Wageningen dimana ituu?
      Basically aku suka kota kecil, bukan metropolitan. I would love to come there! Kalian dalam rangka studi yahh? 🙂

      Salam kenal ya,ve (panggilannya apa nih?)!

      We should meet upp!! Sebelum aku pulang 🙂

  3. yosuakristianto August 8, 2011 at 3:20 am Reply

    When I go to the Netherlands later, I’ll go to Delft, enjoying what u’ve enjoyed, walking the steps that u’ve stepped, gaining the sight that u’ve sighted. Love your posts..

    Is it the souvenir for me? hwhwhwhwhwh

  4. zilko August 8, 2011 at 10:15 am Reply

    Hahaha, selamat datang di Delft. Sudah hampir setahun di Delft, saya belum pernah masuk ke museum-museum itu loh 😛 Btw, Oude Kerk itu bangunannya miring, mirip seperti Menara Pisa di Italy. Makanya banyak yang memberi julukan Oude Kerk itu the Leaning Tower of Delft :P. Dan mengenai pedagang kaki lima, itu hanya ada sewaktu weekend saja 😀 Kalau hari-hari biasa sih nggak ada (ada sih, tapi sedikit saja, dan kebanyakan ya menjual makanan cepat saji semacam patat :D)

    • G.Viona August 8, 2011 at 5:07 pm Reply

      Zikooo.. Harusnya kamu jadi tour guide aku deh 🙂 hihihi!
      Yah, kok aku bisa gak tau kamu di Delft, lupa (~_~)
      Terus di Delft beneran lebih murah kan daripada kota besar? \(^o^)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: