Hari Minggu Pertama di Belanda

 

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas tepat. Itu artinya kantor registrasi Utrecht Summer School sudah buka dan mempersilahkan calon murid yang hendak daftar ulang termasuk saya, Titis, dan Inne.  Segera setelah melakukan daftar ulang, pihak panitia memberikan informasi tempat tinggal yang akan menjadi tempat berteduh selama dua minggu kedepan. Letak akomodasi yang disediakan memang cukup jauh dari kampus tempat kami melaksanakan kelas setiap harinya.

* * * * *  

Benelux Laan harus ditempuh dengan bis selama 10 menit dari Kantor Registrasi Utrecht Summer School menuju Utrecht Centraal Station, dari titik tersebut, kami akan menempuh 15 menit perjalanan menggunakan trem. Untungnya, fasilitas transportasi publik di Utrecht, Belanda sangat mendukung dan mudah diakses. Bukan hanya itu, kami juga dibantu oleh Andre dan Richard, dua kawan asal Indonesia yang sudah kurang lebih empat tahun mengecap kehidupan di Belanda. Mereka adalah rekan dari Inne yang secara sukarela membantu kami menemukan Benelux Laan dan juga turut memberikan banyak informasi penting terkait dengan transportasi umum yang bakal sering kami gunakan nantinya.

RELIABLE TRANSPORTATION SERVICES 

Selain bersepeda, masyarakat Belanda juga sangat mengandalkan transportasi umum seperti bis kota dan kereta listrik atau yang biasa disebut trem. Kalau saya akan berpikir dua kali untuk naik bis kota di Indonesia (yang kadang penuh dengan pengamen, pedagang asongan, dan berbagai macam cerita tindakan kriminalitas), sebaliknya saya sangat merasa nyaman dengan tranportasi publik yang disediakan oleh Pemerintah Negeri Tulip ini. Tidaklah anda perlu merasa kuatir megenai rute yang akan ditempuh, jadwal dari trem dan bus sendiri sudah bisa dilihat dengan sangat detail dan jelas. Jadi, kita bisa dengan mudah membuat estimasi waktu yang diperlukan untuk menempuh rute tertentu. Selain itu, sistem pembayaran jasa transportasi sudah menggunakan kartu pass atau single tiket, jadi tidak perlu anda repot menyediakan uang receh untuk dibayarkan di kursi sopir (yang masih sering ditemui di Indonesia, Hong Kong, atau Taiwan).  

Dalam kesempatan ini, saya menggunakan kartu pass atau yang sering disebut dengan OV Chipkaart. Sebelum tiba di Belanda, kartu ini memang sudah ada di tangan saya. Kok bisa? Ya, saya memang tidak membeli OV card tersebut di Belanda, karena dengan senang hati saya terima kartu OV ‘bekas’ milik Yosua Kristanto, pemenang Kompetiblog tahun lalu (Yos, thank you, thank you so muchh!!!). Setiba di Belanda, saya tidak perlu membeli seri perdana kartu ini, tapi langsung mengisi saldo didalamnya dengan jumlah yang diinginkan. Kalau suatu saat nanti habis, bisa dengan mudah kita mengisi saldo di dalamnya dengan jumlah yang kita inginkan. 

“Nah Vi, kalo kamu pake kartu OV, kamu jok lupa check in ma check out.”terang Peter dengan logat Surabaya yang sangat khas, rasanya seperti di Surabaya namun lebih dingin dan nyaman.

“Loh iya ta,Ko? Ya harus check out gitu?”

“Iya, nek ndak kamu didenda 4 euro pek.” Timpal Inne yang juga dengan logat Surabaya, rasanya akrab.

 

“Ya tapi nek kamu lucky ya bisa aja lolos, tapi kan amannya , kamu harus selalu membisakan diri.”ujar Richard

Di sepanjang perjalanan dari Utrecht Centraal Station menuju Benelux Laan, saya tidak bisa berhenti memandang keluar jendela menikmati gedung-gedung tinggi dan juga bangunan khas dan tetap saja tidak percaya bahwa saya ada di sini, Sama seperti yang dikatakan Dennis di hari pertama kedatangan saya. “it is strange to see you here, in front of me in Holland..”. Bukan hanya Dennis, saya pun heran bisa menjejakkan kaki di Negara ini. Sampai-sampai cuma bisa berdoa dalam hati bersyukur buat semuanya.

 * * * * *

Setelah sampai di Benelux Laan, saya hanya meletakkan koper dan segera mencari makan siang bersama Inne, Andre, Richard, dan juga Mirim yang berasal dari Korea. Kali ini Titis sedikit kelelahan sehingga harus tinggal di kamar.

WHEN YOU GET MORE THAN A COFFEE IN A COFFEE SHOP

Bertujuan untuk lebih mengenal daerah sekitar Utrecht Unversiteit, kamipun memutuskan untuk makan di salah satu restoran yang ada di dekat sana. Tak disangka, makanan pertama saya di Belanda adalah Chinese Food, namanya Wok Express. Karena merasa tidak terlalu lapar, saya hanya memesan sandwich yang rasanya so.so. Cukuplah untuk mengganjal rasa lapar hari ini. Segera setelah makan siang, kami berlima berjalan menuju Dom Tower.

* * * * * 

Jalan kaki menuju Dom Tower serasa begitu menyenangkan, melihat semua orang yang lalu lalang dengan sepedanyam atau hanya sekedar mencari sedikit sengatan matahari untuk membakar warna kulitnya, melihat pola jalan dan juga arsitektur yang selama ini hanya dilihat di Google saja, rasanya semuanya begitu special, sehingga naluri untuk mengabadikan momen semakin meningkat. Dan saya hampir tidak percaya..melihat Coffee shop dengan mata kepala saya sendiri.

“Oh ini ya yang namanya coffee shop yang jual ganja..serem juga”pikir saya.

Tulisan “Coffee Shop” berwarna cerah dengan ukuran yang besar, disertai bingkai jendela yang berwarna ungu tua, dan tentu saja, menyuguhkan aroma weed yang sangat khas. Sayangnya, saya kurang cocok dengan aroma yang seperti teh pahit, dan.. pokoknya khas deh(untungnya). Niat untuk memotret gedung tersebut pun saya urungkan karena takut dengan tatapan mata pengunjung yang bertampang sangar dan didominasi oleh orang negro. Tidak kalah ramai, di depan gerai itu juga dipenuhi oleh para konsumen yang sedang berdiri sambil menyandu. Ya, Coffee shop di Belanda diartikan sebagai tempat jual beli ganja secara legal. Setelah sedikit heboh dengan pemandangan yang barusan dilihat, segeralah saya dan rombongan berbelok kiri dan menemukan Dom Tower.

Around Dom Tower 1

 

Around Dom Tower 2

Ternyata, kami datang di saat yang tepat. Di dekat sana, ada sebuah festival musim panas yang sedang berlangsung dan ramai dipenuhi oleh pengunjung, uniknya, tiba-tiba saya merasa ada di Jepang dan melihat style Harajuku di mana-mana. The Summer Darkness, nama festival musim panas itu. Merasa aneh dengan namanya? Sayapun berpikran yang sama dengan anda dan memutuskan untuk masuk ke lokasi acara.

Seperti apa kelanjutannya?

Yuk ikuti terus cerita saya.

Advertisements

One thought on “Hari Minggu Pertama di Belanda

  1. Yosua Kristianto August 4, 2011 at 6:52 am Reply

    eh cobain aja space cake vio, ntar kasih tau efeknya gmana ya wkwkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: