Antara Dosen, Abang None, dan Belanda (Chapter 2)

Tiga orang, tiga kegagalan, dan tiga keajaiban. Yang menyatukan hanyalah sebuah kata, yaitu ‘mimpi’.

(cont from chapter 1)

Mereka, 1 bulan lalu dan sekarang,

S A N D R A 

“Pinaaa..Gue lolos di tahapan pengukuran tinggi badan!!! Gue habis ini mau tes wawancara. Doain gue yah. Nervous bangettttttt! Hiks!” bunyi BBM Sandra kepada Vina.

Vina tersenyum lebar membacanya. Ia balas mengetik.

“Gileeee! Gue punya temen bakal jadi orang beken di Jakarta! Ndra, gue yakin, terlalu yakin , kalo lo pasti bisa lolos tes wawancara tersebut. Aku percaya Ndra kamu bisa. It’s not only about what you say Ndra. Its also about personality, and I know you have it! Good personality! Im very proud of you!!!! Hug and kiss!”

“Vinaaaaa… makasih banyakkk yah sudah dukung dan paksa-paksa gue ikut beginiann.. I will always remember it! Gue ngga nyangka loh bisa lolos sampai tahap segini! Gue nervousssssssssss..” balas Sandra semangat.

Membaca teks di blackberry ungunya, Vina mulai mengingat dan memutar ulang memori yang pernah ada tentang kejadian ini. “Rasanya seperti “meramalkan masa depan” ungkapnya dalam hati. Jelas tergambar dalam pikirannya. Saat itu, Kharis, Sandra, dan dirinya sedang menikmati makan siang di sela-sela istirahat, berbulan-bulan lalu.

“Gue udah pernah ditawari ikut Abang None gitu ama Ibu-Ibu”

Heh? Emang lo ketemu ibu-ibu dimana sih?

“Lucu yak? Di salon itu, duluuu banget.Tapi y ague gak bisa lah, gue gak pede. Selain itu harus kuliah juga loh di Malay. Gimana coba.”

“Nah, saying banget dah tuh, Ndra, lo kan berpotensi” sahut Kharis.

“Ahh.. gue mana bisa, kurang pede ah, ngga tinggi-tinggi amat, umur juga ga muda-muda amat..” ujar Sandra.

Mearasa tidak setuju, Vina dan Kharis berapi-api mendukung Sandra untuk berani mencoba apabila kesempatan itu datang lagi. Merasa tidak cukup, Vina pun melanjutkan serangan dukungannya melalui BBM selama beberapa hari kemudian.

“Pokoknya ya Ndra, gue mah ga mau tau loh. Kalau ada lagi, lo harus ikut. Harus coba.”

Sandra pun mengiyakan Ia berjanji bahwa dirinya akan berani mencoba kalau suatu saat nanti dibuka pendaftaran untuk Abang None selanjutnya.

..thank you God for us..

*     *     *

K H A R I S

Nyatanya, Sandra memang digariskan untuk cemerlang di pemilihan Abang None. Saat ini ia telah menjadi juara untuk wilayahnya, dan bakal berlanjut untuk bersaing dengan calon-calon dari berbagai daerah Jakarta di ajang Grand Final Abang None DKI Jakarta 2011. Ia berhasil menggapai mimpi yang selama ini dipikir tidak mungkin dan terlalu jauh dari jangkauannya. Sandra berhasil mengatasi ketakutannya dan membuahkan sebuah kemenangan.

Vina tidak berhenti tersenyum bahagia saat melihat foto profile pictue Sandra berganti dengan foto diri yang sedang membawa trophy dan juga piagam penghargaan pemenang None daerah Jakarta dihiasi dengan senyuman super manis dan pakain khas Betawi yang cerah. Tidak hanya itu, di statusnya pun tertulis “Alhamdullilah, my dream comes true!”. Sungguh, turut senang rasanya melihat seorang teman berhasil menggapai mimpi dan impian yang sempat dipendam cukup lama.

“Gue seneng Vi, si Andra akhirnya bisa ikutan Abang None. Jadi inget ya kita berdua maksa dia banget gitu.”

“Sama Ris. Apalagi gue seneng banget waktu tahu dia menang. Ahhhhh.. bangga banget. Kita nonton bareng yah Finalnya ntar. Udah dapet perintah dari None kalau kita dateng. Gratis kok!”

“Iyee dateng deh kita ntar..”

“Iya dong Ris, jarang-jarang juga kan lo punya kesempatang nge date ma gue ini.”solot Vina sembarangan.

“Eh, seneng yah jadi Asisten Dosen? Cerita donk!”

Kharis pun tersenyum cerah dan mulai menceritakan kehidupannya saat itu. Ia bersyukur bisa menjadi seorang Asdos yang ternyata bukan sembarang asisten dosen. Saat teman-teman lain yang menjadi asisten dosen hanya membantu di bagian administrasi, dirinya malah diberi banyak sekali kesempatan untuk turut mengajar beberapa mata kuliah dan juga memberikan tes pada murid-murid yang diajarnya.

“Sungguh kesempatan yang luar biasa, Vi. Gue belajar banyak banget dari dosen gue.”ujar Kharis bahagia.

Kharis memang mempunyai tanggung jawab yang besar, namun dalam waktu yang bersamaan, Ia juga terlatih untuk menjadi seorang pengajar yang baik sekaligus memperdalam ilmu Marketing Public Relations yang ditekuninya melalui bahan-bahan ajaran yang diberikan dosennya. Bukan hanya itu, diskusi terbuka dengan sang dosen juga membuat seorang pria melankolis ini menjadi lebih open minded dan menyerap banyak sekali ilmu pengetahuan lain. Kesemuanya itu membuat dirinya menikmati dan bersyukur atas apa yang dijalani saat ini. Ia bahagia untuk hidupnya sekarang.

“Gila ya Ris, satu bulan kemaren beda banget sama sekarang. Ahhh.. lo ma Sandra dah jelas mau kemana, nah gue mah belum jelas.”

“Lo kan belum lulus Vin, tenang aja, pasti ada kali. Orang kaya elu gini.. dicariin, bukan nyariin.”

“Ih apaan sih..” balas Vina disusul tawa mereka berdua.

Makan siang Vina dan Kharis hari itu terasa berbeda. Semenjak masa magang mereka di perusahaan telah selesai, ketiga anak muda itu menemui kesulitan untuk berkumpul secara lengkap. Karena itu, waktu untuk bertemu walau hanya berdua terasa begitu berharga.

“Mungkin gue ke Jakarta lagi tanggal 9 , Ris” ungkap Vina yang hendak kembali ke Surabaya sore itu.

“Kenapa Vi? Ada kondangan?”

“Bukan Ris. Gue..” Vina terdiam. Tidak yakin akan apa yang dilakukan tanggal sembilan tersebut.

“Gue ikutan lomba nulis, Ris. Dan Puji Tuhan masuk 30 besar. Hadiahnya ke Belanda.” Ucap Vina tidak yakin sambil menatap Kharis dan tersenyum kecil.

“Vi. Gue yakin lo ke Holland. Lo menang lah pasti. Ntar sebelum ke Belanda lo harus traktir gue ma Sandra.”jawab Kharis begitu tenang.

“Ris, itu juga belum keluar nama pemenangnya, lo yakin amat sih. Aneh.”ujar Vina sambil tertawa kecil dan meninggalkan Kharis.

“Liat aja omongan gue, Viiii..!”teriak Kharis di belakang Vina yang sudah berjalan cukup jauh. Vina hanya geleng-geleng.

*     *     *

VINA

Malam hari itu di pesawat yang terbang dari Jakarta menuju Surabaya, Vina duduk di samping jendela menatap gelapnya langit dan tersenyum. Ungkapan pujian pada Tuhan tidak hentinya berkumandang dalam hatinya. “Terima kasih Bapa buat mujizat mu ini. Sungguh.. im speechless now, Lord..”

“Tuh kan Vi! Gue bilang apa! Beneran kan lo ke Holland!!! Hebattt! Gue bangga!”ungkap Kharis begitu semangat.

“Waaaahh, Pinaaaa!!! Gue seneng bangetttt denger ini. Gilaaaaa kerennn! Bangga gue! Ah selamat ya darlinggg!”

Penggalan kata-kata tersebut merupakan secuplik dari banyaknya kehebohan Kharis dan Sandra akan kemenangan yang diraih Vina. Bukan hanya isapan jempol seorang Kharis, ternyata Vina memang berkesempatan ke Belanda melalui keberhasilannya memenangkan lomba menulis tersebut. Dirinya sendiri tidak pernah menyangka bahwa Ia akan menginjakkan kaki di Negara kesukaannya, Netherlands, Belanda. Tidak sabar rasanya Vina menyambut tanggal 29 dan 30. Tanggal 29 adalah saat dimana ia dan Kharis bisa menyaksikan sahabat mereka, Sandra, dalam ajang malam final Abang None 2011. Setelah itu,tanggal 30 nanti ialah hari keberangkatannya ke Belanda untuk memulai Summer School yang dilaksanakan di Utrecht.

*     *     *

Saat ini, Vina tersenyum sendirian di kamarnya. Di tengah nuansa keunguan yang dominan di tempat tidurnya ini, ia menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernanh meninggalkan anak-anakNya bersedih dan tergeletak. JanjiNya selalu ditepati dengan setia. Semua yang dianggap kegagalan tersebut malahan membawa mereka ke dalam sebuah pengalaman yang benar-benar baru dan diluar dugaan Sandra, Kharis, maupun Vina.

Seorang S A N D R A  tidak pernah berpikir untuk mengikuti ajang Abang None, nyatanya, ia berhasi mencapai babak Grand Final tanggal 29 nanti. Kalau ia berhasil lolos tes dalam perusahaan tersebut, bisa jadi ia tidak punya kesempatan yang sama. Atau, belum tentu orang terdekatnya saat itu bisa memberikan izin untunya mengikuti ajang bergengsi tersebut. Sedangkan K H A R I S, kesempatan bagi dirinya mengembangkan lagi pengetahuan dan pengalaman kerja di bidang pendidikan bisa didapatkan dengan begitu maksimal dengan banyaknya tanggung jawab yang dipercayakan oleh dosen kepadanya. Sama seperti Sandra, bisa jadi ia tidak melakukan hal tersebut dengan maksimal apabila ia diterima bekerja di perusahaan tersebut. Dengan keberadaanya sekarang, Kharis bisa fokus dengan dunia belajar mengajar ini.Dan V I N A , mungkin akan melewatkan kesempatan belajar selama dua minggu di Belanda dengan diterimanya dirinya untuk mengikuti tes lanjutan dengan proses yang tidak singkat. Bisa jadi, Belanda hanya tinggal angan-angan yang harus dicapai belasan tahun lagi. Tapi Tuhan berkehendak lain atas hidup mereka bertiga.

Semua hal yang tidak pernah dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh ketiga sahabat ini, itulah yang disediakan Tuhan bagi mereka. Saat ketiganya mulai berjuang dengan sepenuh hati dan siap dengan masa depan, sebuah hadiah diberikan. Hadiah yang tidak ternilai harganya sebagai ganti kekecewaan dan air mata yang pernah tumpah. Bukan hal yang mudah mengatakan ‘ada rencana indah di balik sebuah kegagalan’ saat kita sendiri ada dalam kegagalan tersebut. Tapi yang terpenting adalah tetap percaya bahwa hal itu ialah benar, dan memang akan terjadi pada kita. Saat semua terlihat tidak ada baiknya, segera alihkan cara pandang kita menjadi lebih positif, menatap masa depan yang lebih baik.

Bermimpilah. Percayalah bahwa Tuhan yang akan memberikan arahan menuju mimpi yang sesuai dengan pribadi kita apa adanya. Pilihlah mimpi yang ingin dicapai, bangun dan berusahalah mencapainya.

 

*     *     *

Teruntuk dua orang yang menjadi inspirasi penulisan cerita ini, dan juga kepada mereka yang ada disekeliling kami. Itulah kita, itulah kalian. Saling mewarnai hari-hari yang terkadang tidak mudah dan tidak selalu menyenangkan, semuanya memberikan renik yang beraneka ragam, memperkaya makna dan arti dalam sebuah kehidupan yang hanya sekilas.

Tertuju pula pada pihak ketiga yang menjadi alat Tuhan untuk membantu kami mewujudkan mimpi dan kebahagiaan ini. Biarlah saya dan juga kami menjadi alat bagi sesama yang lain. Memberikan sepercik kebahagiaan, menyegarkan jiwa yang lesu dan lelah berjalan, seperti yang kalian lakukan bagi kami

Kepada Bapa yang selalu menggenggam erat tangan anakNya meskipun ia memberontak sedemikian rupa, tidak mengerti hal baik yang menanti didepan sana. Untuk kesetiaan tiada tara. Bapa, ajari aku mengasihiMu lebih lagi.

(end.)

S I A P A K A H    M E R E K A?

Sandra disini ialah

Andra Pitaria S.

Saat ini dirinya sedang menjalani masa karantina Abang None 2011. Tidak sabar rasanya melihat malam final nanti bersama Kharis. Semoga yang terbaik terjadi pada None satu ini di malam Final nanti! Yuk dukung Andra ramai-ramai! 🙂

Andra P.S

Dukung ANDRA yuk! Ketik ABNON(spasi)ANDRA ke 9981

Bantu saya dukung ANDRA!

Kharis disini ialah

Harris Kristanto

Kesibukan mengajar dan kegiatan asisten dosen di salah satu Universitas Swasta daerah Jakarta Selatan tidak berarti bisa mengacuhkan rengekan penulis untuk memeriksa isi dari tulisan ini. Yah, semoga malam tanggal 29 nanti bisa sangat menyenangkan.Amin

Hobinya Gowes. Sampai hampir Tifus... ckckc. Oh iya, masih single, beriman, baik hati, sabar, muka sedikit seperti bule, hihihi.. follow @harriskristanto

Saat kami magang

dan ya, Vina disini tidak lain adalah saya..

Viona Grace

Thank you for reading, hope that I could spread a sprinkle of hope 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Antara Dosen, Abang None, dan Belanda (Chapter 2)

  1. virna maulina July 27, 2011 at 2:01 pm Reply

    merinding aku bacanya..bagus banget!!
    dibalik kegagalan ada suatu hal yang indah ya..haah, lagi-lagi tulisan kamu meresap hahaa d’-‘b

    • G.Viona July 28, 2011 at 3:41 am Reply

      Iyah Vir 🙂 Memang saat gaal tersebut, bener0benr susah buat lihat sesuatu yang indah, aku patut akui itu loh. Tapi nyatanya saat kita mau berusaha bangkit dan percaya Yang Maha Kuasa, Ia ga akan tinggal diam 🙂 Makasih banget ya mau baca tulisan-tulisan ini. It means a lot for me. Really 🙂

  2. lookthinkcomment July 28, 2011 at 7:31 am Reply

    weuuuww, kamu kayaknya bakat nulis novel deh ges hehehehe..
    keep writing dear… mooocchhh!!!
    *h-1 kamu pergi ding……..

  3. devianakezia July 29, 2011 at 2:52 pm Reply

    wow, Ges! what an amazing story you got there!! I’m truly inspired ^^
    i’m very proud of you too.. hope you’ll get nice experience while in netherlands..
    keep inspiring!! And let us put our dreams as high as we can 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: