Antara Dosen, Abang-None, dan Belanda (Chapter 1)

Tiga orang, tiga kegagalan, dan tiga keajaiban. Yang menyatukan hanyalah sebuah kata,

yaitu ‘mimpi’.

Tiga orang dari latar belakang dan asal kota yang berbeda menjalin sebuah persahabatan. Mereka sempat bersama dalam waktu yang cukup lama, melewati berbagai situasi yang menyenangkan maupun menyedihkan. Saat ini kondisinya berbeda, mereka terpisah dan jarang bertatap muka untuk menghabiskan waktu seperti dulu. Namun, satu hal yang selalu menjadi benang merah pengikat hubungan persahabatan tersebut, namanya mimpi. Ketiganya pernah memiliki mimpi yang gagal diraih, dan juga mimpi yang berhasil diraih.

Ini cerita mengenai Sandra si wanita cerdas nan jelita yang kadang tidak percaya diri; Kharis, seorang pria dengan kepribadian luar biasa yang sering melankolis; dan juga Vina seorang wanita hangat dan optimis yang terlalu perfeksionis. Tiga orang, tiga kegagalan, dan tiga keajaiban. Yang menyatukan hanyalah sebuah kata, yaitu ‘mimpi’.

2 bulan yang lalu

S A N D R A

“Gue ngga bisa Vi…, kenapa kaya gini…”

“Ndra..”

“Tega Vi..tega..tega..Vi… ga kuat gue…”

Vina tidak tahan, ia ikut menangis melihat seorang kawan baik didepannya yang meraung sedih sedari tadi, tidak berhenti menitikkan air mata. Namanya Sandra, gadis manis yang hidupnya beruntung, dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, tidak kekurangan secara materi, dan disertai kepandaian yang luar biasa. Sebagai seorang teman, Sandra adalah sosok yang sangat dewasa, menguasai pengetahuan umum dengan baik sehingga Vina nyaman bertukar pikiran mengenai banyak hal, gadis bermata indah itu juga merupakan fashionista yang patut menjadi panutan bagi sekelilingnya, seleranya tinggi. Tidak hanya itu, Ia merupakan gambaran wanita kuat dan tidak mudah menangis. Tapi sekarang, Sandra bahkan tidak bisa memotivasi dirinya sendiri. Vina ikut pedih melihat kenyataan didepannya, melihat Sandra yang meringkuk di ujung kamar hotel Vina, tanpa ada semangat, penuh air mata, berantakan.

...a tearful midnight...

“Ndra..lo tau kan kalo semua nya ada konsekuensinya, begitu pula dengan ini..”

“Iya, Vi..ini sakit banget tapi..”

“I have been there Ndra, bukannya aku ngga tau…Just let me know everything, speak it up, darl, for it will make you feel better..”

Sandra terus terisak, dalam hati Vina berdoa agar pelukannya bisa menenangkan temannya. Di pagi buta itu, ia sungguh berharap hal baik akan terjadi pada Sandra sebagai ganti kesedihannya malam ini. “Let him go, Ndra..” ucap Vina dalam hati saat Sandra mulai sedikit berteriak dan menangis lebih keras. Hatinya patah.

K H A R I S

Segera menekan nomor Kharis, Vina tak sabar untuk mendengar kabar dari hasil tes penerimaan kerja kawan magangnya ini. “Nanti teleconference ma Sandra ah..”ujar Vina dalam hati sambil menanti suara Kharis di seberang sana.

“Oi, Vi..apaan?”

“Ih judes banget sih Ris. Ris, giman kabar hasil tesnya? Kan sudah nunggu lumayan lama..”

“Ngga Vi, ngga diterima kok..ya udah sih. Mau gimana lagi emangnya..”

Mereka pun terdiam. Vina berusaha berpikir apa yang harus dilakukan, dan diucapkan.

“Ris, lo ngga apa kan?”

“Ngga apa lah , Vi. Emang udah gak berharap banyak juga. Gue sumpek. Sumpek ma hidup gue. Gak tau mau ngapain juga. Gak tau lah, Vi.. capek rasanya..”

“Ris, kok lo ngomongnya gitu sih. Kenapa sih? Are you okay?Mantan?”

Bukan, kata Kharis. Maksudnya bukan hanya soal mantannya yang tiba-tiba baik dan juga menempatkannya dalam situasi yang kurang menyenangkan, tapi banyak hal yang saat itu menjadi beban pikirannya. Kuliah, skripsi, masa depan, pasangan hidup, dan lainnya yang mungkin tidak pernah tersebut. Vina tahu kalau kata-kata motvasinya tidak akan se-ajaib biasanya, ia tahu bahwa Kharis sedang ada dalam masa jenuh.

“Hidup gue, rasanya..gue gak ngerti aja tujuannya. Gue capek aja dengan semua tuntutan yang ada..” ujar Kharis berlanjut denga cerita –cerita yang lebih spesifik tentang pergumulannya kala itu. Vina, hanya bisa terkejut dan turut prihatin.

Khususnya mengenai pekerjaan yang hendak dilakukan, Sandra, Kharis, dan juga Vina memang bersepakat untuk masuk bersama ke perusahaan tempat mereka pernah magang selama kurang lebih setengah tahun. Ketiganya telah menaruh harapan yang tinggi. Cukup tinggi untuk merasa sakit saat jatuh nanti.

V I N A 

“Yaaa, Vi?” sahut suara Kharis di seberang.

Hening. Sisanya hanya samar-samar isak tangis.

“Vi lo nangis..? Vi lo kenapa?? Vi..”

“Ngga Ris. Gue ngga bisa masuk ke perusahaan itu. Gue ga lolos tes yang kedua..Gue…”Vina tercekat. Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Sambil menangis, ia terbaring di lantai dingin kamar tidurnya. Begitu kecewa dirinya akan hasil yang  menyatakan bahwa impiannya selama ini belum bisa dicapai.

“Vi.. lo sedih banget yah pasti. Gue tau lo cinta mati sama perusahaan itu. Tapi jangan terlalu kaya gini, ya. Lo sampai putus asa banget…Its okay Vi” ucap Kharis lembut berusaha memotivasi temannya.

“Gak bisa Ris, ini kaya mimpi gue gitu. Ini kan apa yang kita inginkan dari dulu. Gue juga kecewa ma diri gue atas kegagalan ini. I feel so bad. So stupid. I would love to join that company, even before I graduate. Tapi nyatanya apa..? Gue gak bisa, Ris.” Vina pun terus terisak dan berusaha menjelaskan perasaanya pada Kharis.

Kali ini ia tidak menghubungi Sandra. Dirinya tahu bahwa Sandra sendiri sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri beberapa minggu ini. Kharis memang pendengar dan motivator yang baik. Tapi tetap saja, hati Vina tidak bisa sembuh dari kekecewaan secepat itu. Ia terlalu perfeksionis untuk menerima kenyataan ini. Kegagalan namanya.

“Tidak lolos dari tes management trainee perusahaan itu bukan the end of the world, Vi. Trust me.”

Bukan the end of the world, bukan akhir dari duniaku. Benarkah? Tanya Vina dalam hati sekaligus menerima dan juga meragukan hal tersebut bersamaan. Memejamkan mata dan mematikan telepon setelah beberapa saat mengobrol dengan Kharis, ia terus tergeletak menangis dan mempertanyakan masa depannya.

*     *    *

Sandra, Kharis dan Vina dipertemukan Yang Mahakuasa di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Ketiganya sedang melakukan masa magang di tempat yang sama, walau berbeda Departemen. Dalam proses tersebut, mereka masing-masing sangat mencintai apa  yang dilakukan sehingga merekapun merasa puas dengan apa yang selama ini telah diusahakan. Jam-jam istirahat menjadi sebuah waktu yang menyenangkan untuk berkumpul, bersenda gurau, hingga mendiskusikan sebuah masalah yang serius. Saat dirundung kesibukan, tidak jarang mereka tetap berkomunikasi melalui sms dan telepon, saling memberikan semangat. Ketiganya merasa cocok dan akrab. Bukan berarti tidak dekat dengan peserta magang yang lain, namun memang di akhir-akhir masa kerja praktek tersebut, mereka lebih lagi dekat satu dengan yang lain dikarenakan tanggal batas masa kerja yang hampir sama.

Cita-cita mereka bertiga terlihat sederhana. Sebagai langkah awal, Sandra, Kharis, dan Vina ingin masuk ke perusahaan tersebut sebagai karyawan tetap. Tentunya, untuk mencapai hal tersebut mereka harus mengikuti serangkaian tes yang disediakan untuk menjaring bibit unggul dari tiap pelamar dan akhirnya terpilih sebagai management trainee. Hanya kelihatannya saja sederhana, namun, proses penjaringan tersebut sudah terkenal sangat sulit.

Mereka  bertiga telah mencoba, dan semuanya gagal.

“Kita kenapa sih Ndra, Ris?”

“Mungkin belum saatnya Vi..” balas Kharis

“Gue juga ngga ngerti..bahkan gue gak dipanggil tuh buat tes..” ujar Sandra.

Mereka membagi kisah di teleconference. Thanks to technology.

(cont.)

Advertisements

8 thoughts on “Antara Dosen, Abang-None, dan Belanda (Chapter 1)

  1. orank16 July 26, 2011 at 5:06 pm Reply

    mau lanjutannya~

    • G.Viona July 26, 2011 at 5:17 pm Reply

      Ahhh.. iya, baca besok siang yahhh!! 🙂 yayy! Makasih banyakkk 🙂 HUg

  2. yosuakristianto July 26, 2011 at 5:07 pm Reply

    haduh ayo ayo lanjutkan..

  3. fannylesmana July 27, 2011 at 1:08 pm Reply

    hmmmm…. i know that you will angry with me because I always say that I love how you start your writing… lanjutkan… hehehehe…

    • G.Viona July 28, 2011 at 3:44 am Reply

      Thank you for reading my stories in your very limited time 🙂 I do really appreciate it, Bu. Keep on teaching me how to write then 🙂 God bless you always.

  4. Angel July 28, 2011 at 3:26 am Reply

    Dear, nice story, based on the real story of your life ya? can’t wait to read the next =)

    • G.Viona July 28, 2011 at 3:40 am Reply

      Thanks dear Ce Angel.Indeed based on my true story and my friends’ 🙂 Thank you for reading yah ce, i do really appreciate it!!! Hugs.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: