In het ziekenhuis. “Di Rumah Sakit – Pertemuan manis seorang pria Belanda dengan gadis Indonesia”

“I don’t know why does her self esteem is so low.”

“She said to me that she’s not pretty, she’s not rich, she comes from a poor family & not worth with me..”

“It seems that she surprised. Too much..”

I got myself smile. “Eric, I think I know why. The reason why did she felt that way.”

Satu jam pertama kedatangan saya di Kediri dihabiskan dengan sebuah perbincangan menarik bersama Eric Entrop. Ia adalah mahasiswa asal Belanda yang dalam enam bulan kedepan akan menempuh studi lanjutan di Indonesia, khususnya Universitas Kristen Petra Surabaya. Saya, seorang wanita lajang berumur 21 tahun tidak menduga akan mendengar cerita yang, hm terbilang cukup manis dan langka tentang hubungan dua insan yang berbeda Negara, berbeda dunia. Timur dan Barat.

“Her big eyes attract me since the first time”Entrop,2011

Setelah selesai melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang volunteer di Community Outreach Program September 2010 lalu, Eric Entrop terpaksa harus dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Kondisi fisiknya menurun drastis dan sukses membuat ia rela menghabiskan sisa liburan summernya di tempat tidur. Namun, hal yang sempat dianggap ‘kurang baik’ itulah yang membawanya pada sebuah ‘kebaikan’. Kebaikan yang tidak akan pernah dilupakannya.

Dalam masa pemulihannya, seorang perawat manis selalu rutin mengunjungi juga mengontrol kesehatan pria 24 tahun ini. Karena malu berhadapan dengan orang asing, gadis yang berasal dari Jember ini pun tidak pernah berbicara banyak apalagi berbahasa Inggris, hanya senyuman dan sapaan singkat. Ternyata, keadaan itu tidak bertahan lama. Di beberapa malam saat seluruh pasien telah tertidur lelap, dan para perawat hanya berjaga di luar sambil bersenda gurau dengan rekan-rekannya, Eric dan Vincentia, menjalin sebuah keakraban melalui obrolan ringan. Perlahan namun pasti.

Mengetahui bahwa Vincentia masih malu menggunakan Bahasa Inggris, Eric tidak kehilangan akal. Google Translate pun menjadi dewa cupid mereka. Berbicara dengan perantara software penerjemah Google Translate dilakoni hingga akhirnya kebekuan diantara mereka mencair, terganti dengan hangatnya tawa bahagia dan perhatian yang diberikan. Tanpa disadari benih rasa suka pun muncul antara seorang perawat dan pasiennya.

Di akhir masa perawatan Eric, mereka bertukar alamat email dan Facebook untuk terus menjalin hubungan yang manis ini. He hooked up by this sweet Indonesian girl. Pria berambut pirang gelap ini tidak bisa melepaskan pikirannya akan perhatian yang diberikan perawat tersebut. Komunikasi pun terus dijalankan hingga akhirnya tiba saatnya Eric harus pergi kembali ke Belanda. Empat belas jam penerbangan pesawat dari Indonesia, jauh di Eropa sana.

PROPOSE

“At first, She didn’t believe in me, but I convinced her”

Beberapa kali date dijalani sebelum Eric kembali ke Belanda. Bahkan, ia sempat bertemu dengan nenek Vincentia yang nyatanya lancar berbahasa Belanda. Sebuah kebetulan yang sungguh menyenangkan. Belajar budaya adalah salah satu pekerjaan berat bagi keduanya. Erik pun tidak keberatan untuk pergi ke gereja bersama gadis yang mencuri hatinya ini. Tidak mudah, terlebih bagi seorang warga Belanda yang menganut kepercayaan bahwa agama bukanlah hal yang wajib dimiliki seseorang, itu pilihan. Selain itu, budaya individualis yang tinggi di Negeri Tulip sendiri memaksa Eric untuk beradaptasi dengan kemeriahan atmosfer kolektif di Indonesia. Semuanya dijalani untuk memberikan bukti. Minimal bukti awal keseriusan perasaannya.

Vincentia tidak percaya bahwa seorang lelaki ‘bule’ ternyata bisa tertarik padanya. Seperti yang diceritakan, gadis 25 tahun ini merasa tidak cantik, tidak berkulit putih, bukan dari golongan orang kaya, belum lagi keraguannya akan kesungguhan seorang foreigner mencintai gadis sepertinya. Itu yang dikatakan Vincentia, menurut pandangannya secara pribadi. Eric sempat sangat heran mengapa hal itu bisa dipikirkan seorang gadis Jawa yang menarik hatinya. Ia hanya meyakinkan bahwa ia menerima Vincentia apa adanya, tanpa tuntutan untuk berubah menjadi semua image yang ditakutkan gadis pujaannya tadi. Setelah melewati beberapa waktu dan proses, dua insan ini pun akhirnya menjalin komitmen untuk berpacaran.

*     *     *

Di akhir bulan Agustus ini, keluarga besar Eric akan datang ke Indonesia, khususnya Bali. Pulau yang dicintai penduduk dari seluruh dunia. Saat itulah, Eric akan membawa Vincentia ke depan seluruh anggota keluarganya. Sebagai kekasih hati yang setia menemaninya kurang lebih satu tahun ini.

“I know. I think I really understand how she felt that time, Eric.”

Saya secara jujur menjelaskan bahwa masih banyak penduduk di negeri multikultural ini yang membedakann status sosial berdasarkan tiga atapun empat huruf keramat yaitu RAS atau SUKU. Dengan berani akan saya katakan bahwa pemisahan kelas sosial secara sepihak ini merupakan fenomena yang nyata, minimal di kota asal saya, Surabaya.

Bertanyalah pada sekitar anda yang sempat singgah ke kota terbesar ke dua di Indonesia ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali suku yang terdapat dalam kota cantik ini, seperti Madura, Jawa, bahkan Ambon dan pendatang lainnya.Tidakah heran juga apabila anda banyak melihat orang dengan mata yang relatif sipit, kulit putih dan ya, keturunan Tionghoa maksud saya. Keturunan Cina.

Ada suku-suku tertentu yang beranggapan bahwa suku yang dimilikinya mempunyai derajat lebih tinggi dari suku yang lain.Isu rasialisme masih nyata. Entah secara eksplisit atau implisit. Ada beberapa teman yang secara terang-terangan merendahkan seseorang hanya karena suku. Dihakimi karena warna kulit dan asal daerah. Lucu? Ya, konyol dan menyakitkan. Mungkin hanya sebuah stereotip yang diberikan oleh beberapa oknum dari suku satu ke suku lainnya. Namun tanpa disadari bisa saja itu terekam dalam pikiran kita, sehingga terbuktilah teori self fulfilling prophecy. Menjadikan nyata apa yang dikatakan orang pada diri kita.

Mungkin, saya bilang mungkin. Sekali lagi opini pribadi saya atas apa yang dirasakan Vincentia. Bisa jadi perasaan rendah diri yang dialami kekasih Eric ini adalah hasil dari stereotip yang didengarnya, hasil dari penghakiman orang lain akan sukunya, dan sangat mungkin karena image cantik atau wanita yang diciptakan oleh media komersil sekarang ini. Anda pasti tidak pernah menemui model iklan pelembut wajah dengan kulit gelap atau model cover majalah dengan tubuh ukuran 14. Menangkap maksud saya?

*     *    *

BUKAN CINDERELLA

Kalau dianggap seperti dongeng Cinderella, rasanya seperti menganggap bahwa si wanita mempunyai kedudukan sosial yang sangat berbeda dengan si pria. Tidak adil. Mari buka mata kita perlahan, ternyata sosok wanita ideal yang dianggap oleh Vincentia selama ini bukanlah sosok ideal yang diinginkan Eric. Ia melihat sosok gadis itu begitu sempurna apa adanya, tidak melalui suku, ras, atau bahkan kelas sosial. Berkali-kali Eric menekankan pada saya bahwa ia bersungguh sungguh dengan gadis pilihannya ini, Ia juga tidak ingin gadis yang dicintainya merasa bahwa dirinya penuh kekurangan. Vincentia sudah sempurna sebagaimana adanya bagi Eric. Dan yang penting, mereka saling mencintai. Saya berdoa yang terbaik bagi mereka berdua, Im so happy for both of you! Tot Ziens!!

Being different isn't that easy

Cerita yang bukan cerita sebelum tidur ini saya tulis untuk kepentingan romansa sekaligus menampar setiap isu rasialisme yang masih bertahan. Terutama di sekitar saya.

(cont)

Advertisements

4 thoughts on “In het ziekenhuis. “Di Rumah Sakit – Pertemuan manis seorang pria Belanda dengan gadis Indonesia”

  1. vanessa July 24, 2011 at 7:39 am Reply

    i know exactly how she feels 🙂 mungkin nggak usa jauh2 beda ras ataupun suku.. menurutku memang dasar sifat alamiah manusia untuk tidak pernah merasa cukup ataupun puas dengan diri kita sendiri.. seperti pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau”.. cerita yang menampar kita dengan lembut.. love the way you can just explain this in words 🙂 keep the wonderful writings ges..

    • G.Viona July 26, 2011 at 4:21 pm Reply

      Yes dear.. kebayang ya sih rasanya 🙂 Semoga Tuhan kasi yang terbaik. Kita ngga tau apa yang terjadi di depan buat mereka. Anyway, indeed ita harus selalu bersyukur dan menghargai orang lain dengan semua kondisi nya 🙂 Kerasa loh kalo dibeda-bedain. ga enak! Thank you dear my sweet Van-van, youre sooooooo kind to me! ug. I miss you! 🙂 *ga cukup lunch meeting kemarin 😦

  2. Smileyface July 25, 2011 at 10:17 am Reply

    Real academician, your critical point of view make this more complicated than an ordinary cinderella story. Good point =)

    • G.Viona July 26, 2011 at 4:13 pm Reply

      Thank you dear Doti 🙂 Hope that you will keep on reading this girl’s blog. hehe 🙂 Hug, cutie!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: