Undang-Undang Sampah : Seandainya Memang Dongeng

July 15 2011
02:20am

Tidak menyangka kalau cerita mengenai undang-undang sampah akan menjadi dongeng sebelum tidur saya di malam menjelang pagi ini.
Sayangnya, kisah tersebut bukanlah dongeng.

‘Undang undang sampah’ judulnya. Melihat kalimat tersebut di linimasa mikroblog membuat saya berfikir betapa provokatifnya media ini. Betapa beraninya media massa membuat judul yang nadanya berpihak seperti ini. Pikir saya. Sebelum membaca.

* * *

Hanyut
Tidak hanya untaian protes dan alunan keheranan yang terbengkalai, saya segera membuka link yang tersedia di sana. http://kom.ps/CZBw
Undang-undang sampah, sebuah cerpen. Hah cerpen?

Rangkaian kalimat yang tertulis indah disana memang fiksi, namun merefleksikan betapa hausnya negeri ini akan pendidikan. Paragraf yang tersusun seakan meneriakan jeritan bisu dari mereka yang rindu untuk bisa membaca dan berhitung dengan lebih baik. Ironisnya, tidak banyak yang menyadari kegersangan ilmu pengetahuan untuk generasi sepuluh tahun mendatang. Ribuan, bahkan mungkin jutaan di luar sana tidak sempat berpikir untuk mengenyam bangku sekolah. Ya,mencari uang terlihat lebih bermanfaat.

* * *

Ceritanya singkat, menyentuh hati saya begitu cepat. Mungkinkah diri ini adalah salah satu orang yang disebutkan di sana?
Dikatakan beruntung?
Jahatkah seseorang bisa menempuh bangku strata satu ini?
Tidak hanya prihatin, tidak hanya kasihan. Datang merangkul mereka dan belajar bersama memang sungguh sebuah anugerah yang pernah saya alami. Kegembiraan yang tidak tertandingi melihat senyum dan semangat mereka mau belajar walau di tempat seadanya, berdesak-desakan. Tanpa seragam, tanpa ada papan tulis.
Namun saya tidak cukup.
Dia saja tidak cukup.
Mereka juga tidak cukup.
Kita. Itu mungkin jawaban yang ideal untuk insan di negeri ini.

Tanpa menyinggung ranah bisnis apapun. Hati ini sedikit berat melihat dinamika sumbangsih bagi pendidikan. Banyak. Sangat banyak bahkan, program-program pendidikan berkualitas, fasilitas pengembangan ilmu pengetahuan, dan juga kemudahan biaya yang disediakan oleh industri-industri besar salah satunya adalah tembakau linting atau yang disebut sebagai rokok.

Rokok! Saat Pemerintah menggencarkan peringatan bahaya rokok, ia juga membuka mata masyarakat akan kebaikan hati industri ini di waktu yang bersamaan. Corporate Social Responsibility yang sukses dan berhasil.
Cukuplah opini pribadi akan industri ini. Pertanyaan yang mungkin akan sulit saya jawab sendiri adalah : Apa perlu menunggu pebisnis raksasa dan industri penuh laba untuk berbuat ‘lebih’ bagi insan masa depan Negara Indonesia ini?
Industri yang tidak lain bukanlah industri milik Pemerintah.

* * *

Kita bisa. Saya yakin. Bisa. Undang-undang wajib belajar seharusnya tidak sama artinya dengan undang-undang wajib bayar. Selalu saya ingat tulisan Jaya Suprana di kumpulan artikel Kompas ini, begitu mengena, begitu mendarat. Kata-kata wajib dalam peraturan tersebut patutnya dipertanyakan. Wajib? Berarti harus? Bagaimana dengan kaum marginal?
Daerah yang belum terjamah dan mendapat istilah ‘maju’? Bagaimana dengan mereka?
Sebuah ‘kewajiban’, selayaknya didampingi oleh sebuah dukungan demi memfasilitasi jalannya peraturan dengan baik. Itu seharusnya, dan idealnya.

Uang. Uang. Uang.
Jangan salahkan uang kertas tersebut, ia adalah benda mati. Yang mengatur uang tersebutlah yang harus mempertanyakan integritas dan juga nurani yang selama ini menjadi landasan dalam menjalankan tanggung jawab mulia. Tidak akan saya hakimi orang yang berada di puncak Pemerintahan, karena pada dasarnya adalah sinergi. Semuanya memberikan dampak, sebab maupun akibat. Selayaknya rumah tangga sederhana, tidak ada yang namanya pertengkaran hanya karena kesalahan satu pihak. Apalagi dalam rumah tangga Pemerintahan dengan berbagai macam kepentingan dan latar belakang dari ratusan orang di dalamnya. Semuanya memberikan dampak, semuanya turut meninggalkan jejak.

* * *

Bukanlah Siapa Siapa
Seorang saya hanyalah rakyat biasa, orang awam yang bahkan tak dikenal. Tulisan sederhana ini hanya ingin mengekspresikan dalamnya beban hati seorang mahasiswi akan anak-anak, akan pendidikan, akan masa depan pemimpin Zamrud Khatulistiwa.

Mungkin perasaan ini tidak akan terganggu apabila saya dingin dan tidak peduli akan Negeri ini. Sebaliknya, saya berempati. Karena saya mencintai Bangsa ini.

Ini hanyalah satu suara, sebuah tulisan dari belasan juta penduduk Indonesia.

Di luar sana, saya tahu banyak yang punya beban senada.
Seperti sebutir pasir di pesisir pantai. Kecil, namun ia bukan lah satu-satunya.
Sesederhana apapun, bisa berdampak, bisa menjadi terang.

Advertisements

2 thoughts on “Undang-Undang Sampah : Seandainya Memang Dongeng

  1. Rica Nurlela July 15, 2011 at 1:58 pm Reply

    Artikelnya mantab!! salam kenal ya

    • G.Viona July 22, 2011 at 11:02 am Reply

      Hai Rica,
      salam kenal yah! 🙂 Semoga bisa sama-sama kasi sumbangsih lewat tulisan 🙂
      Have a great time of reading the other post!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: