Injecting My Vitamin B

July 12 2011

Tuesday. A cozy ones.

Hari ini genap satu bulan lebih tiga hari dari tanggal yang mengubah hidup, menjawab impian saya.

Tidak menyangka bahwa 18 hari lagi gadis Surabaya ini sudah bisa menjejakkan kaki di Belanda, yang menjadi titik awal perjalanan Eropa pertama dalam hidupnya. Berbicara mengenai persiapan yang dilakukan untuk keberangkatan ke Belanda, kurang lebih satu bulan ini, saya cukup ditantang untuk bisa membagi waktu dengan sangat baik antara persiapan tersebut dan juga skripsi yang sedang dikerjakan.

Kalau saya boleh jujur, saya sempat merasa frustasi dan tertekan :’)

Titel Juara lomba Kompetiblog tidak otomatis merubah saya menjadi wanita super yang hebat dan tidak tertandingi. Sebaliknya, saya tidak ingat berapa kali sudah saya terisak sendiri di kamar karena merasa lelah dan putus asa untuk membuat segalanya baik. Skripsi yang sedang saya kerjakan diharapkan sudah bisa ditinggalkan dengan tenang sebelum keberangkatan ke Belanda nanti. Penelitian kualitatif mengharuskan saya melakukan observasi dengan sangat detail dan juga peka terhada kondisi yang tengah terjadi di tempat penelitian. Dengan jam kerja yang normal, dan seringkali melakukan bimbingan atau hanya sekedar menulis laporan harian sesudahnya bisa dengan mudah membuat saya lelah, belum lagi persiapan Summer School tidak kunjung rampung.

Segala rencana untuk Summer School ke Belanda seringkali saya rundingkan bersama Titis, partner saya selama di negeri kincir angin itu. Bersama kami mengatur itinerary dan segala update mengenai Summer School. Sejauh ini, segala keperluan tiket untuk perjalanan dan juga trip setelah summer school sudah beres. Eurail pass saya sudah di tangan, sedangkan Titispun sudah mendapatkan tiket train nya. Baguslah.

Kami berdua tidak lain mempunyai tanggung jawab yang sama yaitu skripsi. Jadi frekuensi kami berdiskusi tidak bisa dibilang sangat intens. Ada beberapa hari dimana kami tidak berkomunikasi sama sekali, namun saat tiba untuk online discussion, kami bisa lupa waktu.

SAYA SADAR

Sifat perfeksionis yang lekat membuat saya selalu menekan keras diri sendiri dan juga menginginkan segalanya berjalan dengan rapih sesuai dengan rencana (saya). Termasuk dengan skripsi dan perencanaan Summer School ini. Tidak jarang, orang-orang sekeliling berkata β€œdon’t be too hard to yourself..” Namun, kalimat yang berkali-kali saya dengar tersebut nampaknya tidak mempan untuk membuat saya berubah. Tidur pagi bahkan tidak tidur untu mengerjakan skripsi pun saya jalani. Sakit? Saya tidak begitu peduli dengan tubuh saya sendiri. Dasar hati saya tahu bahwa kecewa akan diri sendiri lebih sakit rasanya dibandingkan dengan kecewa karena perbuatan orang lain

Di tengah kelelahan, pikiran saya bertanya,

…bagaimana bisa sebuah hal yang seharusnya menjadi sebuah hadiah menyenangkan dapat membuat saya terbeban sebegininya…

Rasanya tidak ada yang salah kecuali hati saya sendiri. Seorang saya seharusnya bisa lebih bersyukur dan mewujudkan rasa syukur itu dengan manajemen waktu dan stress yang lebih baik. Tidak kurang-kurangnya Tuhan memberikan hal yang menyenangkan hati saya, tidak seharusnya saya bisa terpuruk terbawa perasaan seperti ini. Memang, tidak ada yang gratis di dunia ini, tidak ada yang namanya take it for granted. Dengan satu bulan yang akan saya habiskan menjauh dari Indonesia dan rutinitias, saya harus benar-benar serius dalam mengatur delapan belas hari ke depan. Merencanakan semuanya dengan lebih tenang, disertai manajemen waktu yang lebih baik, dan yang terpenting, menjalaninya dengan sikap yag lebih positif. Lebih optimis. Kalau bisa dilihat dengan kasat mata, saat ini saya sedang menginjeksikan vitamin B yang saya ciptakan ke diri saya sendiri. Dan ya, rasanya memang butuh dosis yang sedikit lebih tinggi πŸ™‚

I believe , it works.

Melakukan yang terbaik adalah hal terbaik yang dapat dilakukan saat ini.

Tanpa keluhan, tanpa rasa pesimis, tanpa drama.

Dengan bahagia.

 

 

 

 

Karena jauh dilubuk hati ini, saya tahu saya tidak sendiri.

Advertisements

4 thoughts on “Injecting My Vitamin B

  1. iyos July 12, 2011 at 2:42 pm Reply

    di hidup ini ada 2 mentor:
    1. Konsekuensi. Klo dkasih tau ngeyel n akhrnya menuai konsekuensinya baru jadi lebih pintar. Harganya dibayar belakangan.
    2. Hikmat. Tahu bagaimana mengatur dengan bijak terlebih dalam menjaga kesehatannya sendiri. Harganya dibayar di depan.
    Jangan ampe sakit lagi ya, semangat.

    • G.Viona July 12, 2011 at 3:30 pm Reply

      Thank you very much πŸ™‚
      I will, Yos.. hehehehe!! Semangatt!

  2. Ria Oktavia July 14, 2011 at 7:53 am Reply

    semangat my dear friend ^^
    You are not alone..
    God always beside u πŸ™‚

    Chiayooooo Gegez…skripsi..kalau dibayangkan begitu sulit, ketika menjalani memang sangat sulit..tapi ketika selesai merasakan begitu indah dan melegakan ;0 Kamu pasti bisa gez..saya akan selalu menyemangati, mendukung n mendoakanmu ^^

    Gbuuuuuuuu & enjoy your grace from God..karena gak semua orang bisa mendapatkan kapasitas dan berkat yang sama seperti kamu πŸ™‚

    • G.Viona July 22, 2011 at 11:04 am Reply

      Hiks, iya Ri.. aku memang ahrus semangat! πŸ™‚ Makasih banyak buat dukungannya yah! Im very proud of you! Smart working girl dan juga mahasiswa yang rajin. hihiihiihihi πŸ™‚ Makasih banyak buat supportnya. Means lot!!!!!! HUG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: