Saat ‘Romeo’ mencintai ‘Rama’ , dan ‘Juliet’ memilih ‘Shinta’

In order to respond the day called “Pride and Powerful Day”

24 June 2011

The day that gay marriage officially legalized by New York government.

 

09 Juni 2011

Setengah perjalanan sudah saya lalui. Sebentar lagi akan tiba di bandara Soekarno Hatta Jakarta untuk terbang pulang ke Surabaya. Hm, kembali pulang ke rumah dengan membawa kabar gembira bagi orang tua ternyata sangat membahagiakan.

Duduk di kursi belakang taksi Y yang ditumpangi dari Grand Indonesia membuat saya bosan dan mencari cara membunuh waktu. Ah, mengobrol dengan Bapak supir taksi mengkin bisa membantu.

“Sudah berapa lama Pak bekerja di Taksi Y?” adalah pertanyaan pertama yang saya lontarkan untuk membuka seluruh cerita di balik kehidupan seorang Bapak sederhana yang baik hati dan sangat ramah menjawab pertanyaan gadis Surabaya ini. Sesuai dengan yang saya harapkan, pembicaraan pun mengalir hangat, membunuh waktu. Hingga tiba saatnya Ia mulai menceritakan pengalamannya menjadi sopir di shift malam dan subuh.

“Iya Mba, kalau paling ngga enak itu mengantar orang mabuk. Saya ini lihatnya kasihan dan sedih, kok ya hidupnya dibuat mabuk-mabuukan seperti itu?”

“Loh iya ya Pak? Tapi orangnya ngaa berbuat jahat kan Pak? Biasanya kalau mabuk ngga sadar, bisa berbuat yang aneh-aneh..”

“Wah, ada itu , Mba yang mau keluar dari mobil sampai saya bener-bener jaga..”

Kami pun membahas dengan seru tipikal penumpang malam yang setia menggunakan jasa taksi untuk untuk pulang kebali ke rumahnya. Ya, memang tidak dapat dipungkiri, kebanyakan dari mereka terbiasa mengecap kehidupan malam.

Tiba di sebuat tema yang menggelitik keingintahuan saya.

“Yang suka sesama jenis juga banyak Mbak.. saya geli sendiri liatnya..”

“Oh ya Pak? Kok Bapak bisa tahu kalau dia itu suka sesama jenis?”

Bapak tersebut dengan yakin menceritakan kepada saya akan apa yang dilihat dari kaca spion tengah dan juga analisa pribadinya saat melihat gerak-gerik sang penumpang. Yah, menurut saya, bukanlah suatu hal yang sulit saat ini untuk menemukan pasangan sesama jenis, terutama di Ibukota. Orang modern saat ini memang cenderung terbuka dan tidak segan menunjukan self identity nya di mata publik, termasuk juga para penyuka sesama jenis.

“Kok bisa yah Pak.. laki suka ma laki, yang cewek ya seperti itu. Kenapa yah Pak?” pertanyaan saya ini sebenarnya bukan seratus persen pertanyaan, saya juga ingin melihat cara pandang I Bapak baik hati ini.

“Menurut saya itu loh bukan penyakit, Pak..”sergah saya sebelum ia sempat menjawab.

”Loh, Mbak. Saya juga yakin itu bukanlah penyakit..” nada si Bapak sudah mulai tinggi dan semangat, bagai diplomat.
Tuhan , Yang Maha Kuasa sudah menciptakan semuanya itu yang begini adanya. Itulah sempurna. Tuhan tidak menciptakan itu yang namanya rencana untuk menyukai sesama jenis, apalagi melakukan hubungan yang lebih jauh.” ujar Bapak dengan penuh kepercayaan dan keyakinan.

“Setuju Pak!” jawab saya dengan muka tersenyum.Saya menyukai pemikiran Bapak ini. Ia tidak menghina atau mencaci golongan tersebut, namun ia tidak membenarkan hal tersebut.

“Memang Tuhan sudah menciptakan sempurna. Memang ada pengaruh gaya hidup..”

Belum selesai saya membuat pernyataan, Bapak Baik Hati sudah turut memberikan afirmasi.

“Gaya hidup itu Mba, memang bikin ruwet. Harus dibenahi. Kalau masih muda dijaga baik-baik. Ya kalau terbawa arus, bisalah jadi seperti itu.”

Saya mengangguk setuju. Masih tetap tersenyum.

*     *     *

SEGELINTIR OPINI

04 July 2011

Secara pribadi, saya percaya bahwa apa yang disebut dengan hubungan cinta sesama jenis atau familiar disebut gay dan lesbian merupakan refleksi dari values yang dianut seseorang. Tentu values disini erat kaitannya dengan keimanan dan kepercayaan kita akan hal yang benar dan salah.

Values yang kita anut akan berdampak bagi setiap kegiatan hidup dari yang sederhana hingga yang rumit dan membutuhkan pemikiran panjang. Ia menjadi dasar pemikiran anda dalam mengambil sebuah keputusan, Ya, values atau nilai. Saat seseorang mudah goyah akan values hidupnya, ia akan cenderung mengikuti arus yang ada dan memberikan ruang yang over fleksibel untuk sebuah prinsip hidup. Apa yang kita pilih menjadi dasar bangunan keputusan kita setiap hari?

Sangat mungkin adanya apabila seseorang yang goyah dan abil, sangat mudah terombang ambing oleh lingkungannya. Mungkin ia terjerumus, namun Ia telah memilih gaya hidup yang dianutnya, dan mengadopsi nilai yang ada dalam gaya hidup tersebut. Lebih dari sebuah pemikiran pribadi, ada banyak kejadian nyata yang membuktikan persepsi saya bahwa kecenderungan menyukai sesama jenis bukanlah bawaan dari lahir.Itu semua kembali ke p i l i h a n.

*      *     *

Saya mengenal seorang gadis jelita nan menarik. Tidak ada yang berbeda dengan kehidupannya, hingga ia berkawan akrab dengan seorang gadis lainnya yang ternyata adalah penyuka sesama jenis.

“Ah, tidak masalah. Aku akan menyadarkan bahwa hal itu tidaklah baik..” ujarnya di awal.

Keraguan saya terjawab setelah malam pengakuannya tentang apa yang terjadi selama ini ia mengenal kawan barunya itu. Setelah cukup dekat dan intens, masuklah ia pada komunitas yang melegalkan hubungan wanita dengan wanita alias lesbian. Ia mengadopsi nilai dalam komunitas tersebut. Ia memilih untuk melakukan toleransi pada nilai yang dianut sebelumnya. Gadis ini positif berpacaran dengan gadis yang membuka wawasan akan dunia ‘lain’ ini.

*     *     *

Berusaha saya tarik dengan sederhana kesimpulan dari penulisan post baru seri 1 ini. Berhubungan dengan latar belakang seseorang menyukai sesama jenis, saya percaya, apapun alasan yang diberikan, akan kembali pada titik yang sama yaitu sebuah p i l i h a n –  h i  d u p .

Ada dua orang Ibu miskin yang masing-masing mempunyai anak berumur tiga tahun dan haus akan susu.

Keduanya tidak mempunyai uang untuk membeli. Ibu pertama terus memutar otak , hingga akhirnya mengisi botol mineral kosong dengan kerikil dan  berusaha mengamen. Hasilnya, ia belikan sekotak kecil susu manis untuk anak balitanya.

Di waktu yang sama Ibu kedua tidak ingin lebih susah lagi dan memutuskan untuk mencuri. Namun tidak sampai berhasil menikmati hasil curiannya, ia tertangkap. Anaknya pun tetap kehausan.

Andaikan pun Ibu kedua mencuri dan tidak tertangkap, toh keduanya tetap mendapatkan susu bagi anak yang dikasihinya. Namun, cara mana yang anda akan tempuh dalam hidup? Ini hanyalah analogi yang terlalu sederhana, untuk pemikiran sederhana saya.

*     *     *

Semua yang ada di bawah matahari tidaklah selalu nyaman dan subur,

Namun keputusan dan pilihan yang kita buat untuk menyikapi apa yang terjadi, itulah yang menentukan.

Apa yang ditabur, itulah yang dituai.

 

 

G a y      d a n     l e s b i a n .  

Masalah kah bagi saya?

 

(cont.)

 

 

 

ps. Saat ‘Romeo’ mencintai ‘Rama’ , dan ‘Juliet’ memilih ‘Shinta’

Penulisan judul diatas dilakukan oleh penulis secara pribadi :

Tidak ada hubungannya dengan nama seseorang pada kejadian nyata. Hanya fiktif belaka.

Nama nama tersebut tidak mewakili apapun selain jenis kelamin.

Judul diatas adalah murni atas inisiatif penulis dan tidak bermaksud menyinggung siapapun dalam konteks apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: