(60 Minutes Before Final) A Faithful One Day Trip

Thursday, 09 June 2011

Terjebak di tengah kemacetan Bundaran HI, membuat saya sedikit panik namun dengan segera memutar otak untuk memanfaatkan waktu tersebut. Menyadari penampilan yang masih acak-acakan karena tidur larut di malam sebelumnya dan juga kelelahan mengerjakan skripsi saat di pesawat, saya memutuskan untuk sedikit merapikannya. Dengan berbekal sisir dan juga beberapa item yang hanya dimengerti wanita, saya menggunakan cermin yang ada di bagian depan atas kursi penumpang. Di saat saya berhenti sejenak untuk memperhatikan ponsel, sang sopir melakukan hal yang sangat diluar dugaan saya.

“Ini neng, biar jelas..” ucapnya seraya mengelap kaca yang memang sudah buram dan menghasilkan pantulan tidak sempurna. Dibalik mukanya yang garang dan jawaban-jawaban prinsip jurnalistik ‘padat-singkat-jelas’ nya, ternyata bapak ini baik juga. Pikir saya. Itulah kenapa memang benar apa kata pepatah dont judge a book by its cover.Saya tersenyum lebar dan mengucapkan terimakasih.

Demi mengatasi kebosanan di tengah kemacetan, cerita mengenai tujuan saya ke Jakarta pun dimulai. Dengan semangat, saya terus berceloteh sambil berdoa bahwa kemacetan akan segera cair seiring cairnya perbincangan kami. Penuh rasa ingin tahu, Si Bapak menanyakan lebih lanjut mengenai konsep dari lomba menulis. Menyadari ketidakmengertiannya, saya berusaha mempermudah dengan menjawab bahwa lomba tersebut seperti lomba membuat berita, membuat artikel. Pembicaraan pun berlanjut hingga akhirnya saya dan Si Bapak keluar dari jebakan kemacetan Ibukota dan tiba di daerah blok M.

TERIMA KASIH PAK

Sudah dekat, pikir saya. Dan memang benar, tidak sampai 2 menit, tibalah saya di tempat yang didapuk oleh Neso Indonesia sebagai tempat bersejarah untuk pengumuman pemenang Kompetisi Blog 2011. Es Teller 77, tempat yang sama saat saya diuji oleh pembimbing internship si Unilever Indonesia. Masih segar dalam ingatan, saya ditantang untuk berkenalan dan mendapatkan kartu nama dari para penonton dan peserta Peca Kuca 2010. Tiba di lapangan yang asing sama sekali membuat nekat menjadi satu-satunya senjata saya,dan untungnya berhasil. Kali ini adalah kali kedua saya datang, namun dengan tujuan dan harapan yang berbeda. Belanda.

“Terimakasih ya Pak! Doakan saya juga!” ucap saya semangat.

“Pasti menang kok,Neng..” jawab Si Bapak datar. Penuh makna.

Sedetik saya terheran, lalu hanya melempar senyum dan menutup pintu.

Seiring kaki saya melangkah naik ke lantai dua, tingkat kecepatan detak jantung saya pun ikut naik dan disertai keringat dingin. Ketegangan memang cukup terlihat di wajah para peserta yang telah hadir di lantai 2 Restoran Es Teller 77 itu, tidak banyak dari mereka yang berbincang satu dengan lainnya. Mungkin karena tidak kenal, mereka juga terlihat lebih berkonsentrasi ke makan siang yang tersedia, selain itu, saya mengerti bahwa pengumuman nanti merupakan hal yang sangat penting bagi mereka, termasuk saya. Segera setelah mengisi daftar hadir yang telah disediakan, saya memutuskan untuk duduk di salah satu meja bundar beserta yang lain, dan memilih roti bakar coklat keju beserta segelas limun hangat untuk brunch saya hari itu. Makanan berat jelas saya tolak dan anda tahu alasannya.

Sepertinya pihak restaurant memang membakar roti dengan sangat teliti dan juga memeras jeruk nipis dengan sepenuh hati. Ketidaksabaran saya sedikit diuji. Namun itu tidaklah penting dibanding dengan alasan sesungguhnya. Saya tegang dan butuh pengalihan perhatian, yaitu makanan. Untungnya teman-teman baru di meja tersebut cukup ramah dan bisa diajak ngobrol dengan seru. Sebelah saya adalah Dony yang ternyata salah satu dari 3 karyanya memenangkan penghargaan sebagai artikel favorit. Wow, itu reaksi yang saya tunjukkan secara jujur. “Wah, pasti bisa menang kalau gitu Don! Semangat ya!”.

SIAP MENTAL

Jauh di lubuk hati saya, rasa minder dan optimis saling berhantaman, berusaha mendominasi perasaan saat penantian detik-detik pengumuman nama 4 pemenang Kompetiblog 2011. Namun, dengan segera saya menyadari kalau yang dibutuhkan saat ini hanyalah satu, yaitu damai sejahtera. Saya tersenyum simpul dan membodohi diri sendiri.

“Tenang,Ges. Jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa. Yang terjadi, itu pasti terbaik.” ujar saya dalam hati.

Saat MC sudah terlihat bersiap-siap, saya pun sadar bahwa acara akan segera dimulai. Seiring dengan beberapa panitia yang naik ke panggung untuk mengecek sound dan LCD yang akan digunakan, pesanan saya akhirnya datang dengan tidak mengecewakan. Rasanya enak. Minimal coklatnya menggunakan selai krim coklat, bukan meses seperti roti bakar pada umumnya. Sambil memotong roti, saya bersama semua orang di sana memperhatikan panggung dengan seksama. MC pun membuka acara dengan penuh semangat. “Selamat Siang 30 finalis Kompetiblog 2011!”

Seketika, roti yang saya kunyah pun menjadi tawar..

 

(cont.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: