#IndonesiaJujur : Saat Kejujuran Hanya Ada Di Buku PPKn

 Sebuah pengalaman dalam 21 tahun masa pendidikan saya.

“Ges, lembar jawaban yang kamu kumpulkan ke pengawas ulangan tadi, dijadikan contekan massal. Orang-orang yang tadi tersisa di ruangan, otomatis semuanya nyontek. Pengawasnya gak ‘genah’. (baca : tidak benar,sembarangan.)”

“Hah? Apa? Maksudnya?”

“Iya, jadi yang tersisa di kelas tadi minta supaya kertas jawabanmu dicontek ramai-ramai. Tapi tenang, Ges, pengawasnya sudah aku laporkan ke orang yang berwenang. Dia pasti kena sangsi! Sabar ya Ges.”

Masih teringat  segar, saat itu sangat sulit bagi saya mempercayai hal tersebut. Bagaimana mereka tega dan egois seperti itu? Bagaimana bisa mereka BEKERJASAMA dengan pengawas tes! Otak ini berpikir keras untuk mencari sebuah alasan yang tepat mengapa seseorang yang telah diberikan kepercayaan dapat dengan sengaja melacurkan kepercayaan tersebut hanya demi… relasi?..image? Saya tidak menemukan jawabannya. Tidak adil.

Usaha saya semalam suntuk malam sebelumnya seakan dilecehkan. Walaupun kecewa, tidak ada yang bisa dilakukan. Percaya dengan sistem yang telah ada, saya berusaha menerima dan berterimakasih pada teman yang telah memberikan ‘kejutan’ tersebut di siang bolong.

TIDAK SEMUA ORANG BERPENDIDIKAN BERPERILAKU SELAYAKNYA ORANG BERPENDIDIKAN

Berkendara pulang ke rumah, seorang broadcaster sebuah radio lokal Surabaya menceritakan bagaimana tragisnya nasib Bu Siami. Melarang anaknya memberikan contekan ataupun mencontek yang lain, Ibu ini malah dimusuhi, dihina, bahkan diteror oleh warga setempat. Para orang tua yang lain merasa terancam apabila anak mereka tidak lolos UNAS. Bukan hanya itu, pengawas UNAS pun turut mendukung gerakan contek massal ini. Wow,luar biasa!

“Saya hanya ingin mengajarkan anak saya jujur..”ucap Bu Siami

(Jawa Pos, 11 Juni 2011)

Nampaknya sebuah itikad baik tidaklah ampuh untuk membuka kebutaan orang tua lain di kampung tersebut akan pentingnya arti dari sebuah nilai. Values. Sebaliknya, mereka mendorong Bu Siami turut tenggelam dalam kebutaan tersebut. Satu keluarga jujur Bu Siami, dihadapkan dengan puluhan keluarga yang memilih untuk bersama-sama tidak jujur. Budaya kolektif. Suara mayoritas masih menjadi pemenang di hukum alam kampung tersebut. Dengan tidak berdaya,saat ini keluarga Bu Siami pindah ke kampung lain untuk mengamankan diri, malahan, anak Bu Siami terlebih dulu diungsikan demi menghindar dari amukan massa.

BAHAYA LATEN

Sejenak beralih dari isu krisis politik dan ekonomi yang semakin hari semakin gencar diberitakan dan menjadi perhatian Pemerintah, KRISIS MORAL sedang terjadi! Ia sedang berakar dan bersiap tumbuh. Anda tahu bagaimana buahnya nanti. Kalau dibiarkan, Bangsa ini akan mengahadapi degradasi moral yang pelan, namun pasti.

Cerita nyata dari keluarga sederhana Bu Siami seharusnya menjadi tamparan bagi Pemerintah, termasuk kita semua. Sebagai generasi muda, saya percaya bahwa masa depan bangsa ini memang berada di tangan kami nantinya. Bahkan terlebih penting lagi, generasi yang jauh lebih muda dari saya harus segera dipersiapkan. Penanaman nilai-nilai moral yang baik sangatlah penting untuk akhirnya menjadi sebuah kebiasaan dan menghasilkan gaya hidup yang bermoral dan berintegritas. Nilai inilah yang nantinya menjadi tolok ukur bagi mereka untuk melakukan segalanya. Memahami mana yang tepat dan tidak tepat, mengerti mana yang benar dan yang salah.

“Orang tua saja bilang boleh mencontek, masa kamu sebagai guru mau melarang..?”

akankah dialog diatas akan terjadi suatu saat?

Kalau semenjak kecil seorang anak diizinkan untuk berperilaku tidak jujur, sangat lah mudah diduga bahwa nantinya hal ini akan melekat dalam prinsip hidup yang dipegang nantinya. Keluarga sebagai ‘sekolah’ pertama seorang anak seharusnya dapat memberikan bibit-bibit positif yang nantinya ak

an bertumbuh lebat dan membuahkan hasil yang positif, serta mempengaruhi sekelilingnya untuk menjadi lebih baik.

Beruntunglah ada berbagai bentuk media massa yang berusaha mencelikkan mata dan pikiran Bangsa tercinta ini. Cukup sudah pemberitaan tentang Tanah Air yang kurang baik di depan publik Internasional, cukup sudah teman-teman luar negeri saya bertanya apakah Indonesia benar-benar seseram itu, cukup sudah memulai hal jelek yang nantinya akan berakibat negatif. Penulis berharap, pihak yang berwenang, benar-benar bertindak tegas dengan permasalahan Bu Siami. Kalau contoh nyata dari kebobrokan moral ini berhasil diatasi dengan benar, saya yakin hal tersebut menjadi contoh nyata kemenangan yang didapatkan dari sebuah kejujuran.

Being different isn't that easy,indeed.

…tidak hanya membaca dan menulis, ayo mulai dari diri kita sendiri. Berawal dari membuat keputusan-keputusan sederhana berlandaskan kejujuran, mari bersama hentikan krisis moral ini

(cl,2011)

Advertisements

3 thoughts on “#IndonesiaJujur : Saat Kejujuran Hanya Ada Di Buku PPKn

  1. […] Danger 030 | Lalita Fitrianti | #indonesiajujur: Arti “Pendidikan” 031 | Viona Grace | #indonesiajujur: Saat Kejujuran Hanya Ada di Buku PPKn 032 | Farida Ariani Rachmawati | #indonesiajujur: Seberapa Peduli Kita dengan Kejujuran? 033 | […]

  2. Jessica June 15, 2011 at 1:21 am Reply

    Hey Ges, good post! and knowing a girl this young actually have concern in values and integrity is such a bliss. Keep doing what you believe in. Jess.

    • G.Viona June 15, 2011 at 3:27 am Reply

      Dear Ce Jess, thanks a lot for reading and commenting here. Its totally surprising me. Ngga nyangka cece bakal liat. =) Makasih ya ce buat dukungannya. Should learn a lot of things from you as a blogger. Nice blog ce. Really attractive! =) GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: